Kisah Raibnya Ribuan Makam Ditelan Rawa Jakarta

Makam
Sumber :
  • Muhammad Iqbal
VoxPop.co.id
img_title 48 PNS DKI Jakarta Dicopot, Terlibat Kasus Makam Fiktif
- Sebuah plang dari besi berdiri miring di tepi jalan Kapuk Teko, Kecamatan Cengkareng, Jakarta.
img_title Wagub Djarot Turun Tangan Bongkar Makam Fiktif

Plang bercat hijau itu tampak sudah berkarat dan ditumbuhi lumut. Namun, dari kejauhan masih terlihat jelas sebuah kalimat bernada peringatan bertuliskan
img_title Polda Metro Siap Tampung Laporan Soal Makam Fiktif
"Dilarang Membuang Sampah di Areal Pemakaman".

Di sisi kanan atas plang juga terdapat sebuah logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mungkin bagi mereka yang baru melintas atau bertandang ke tempat itu, pasti akan bertanya, benarkah area berplang kusam itu sebuah tempat pemakaman?

Pertanyaan itu sangat layak dituturkan, karena sejauh mata memandang, di area sekitar plang, tidak terlihat satu pun batu nisan yang selama ini menjadi tanda sebuah pemakaman.

Tak ada bunga kamboja yang tumbuh, tak ada juga pelayat yang duduk bersimbuh membacakan sebait doa di sana.

Pemandangan yang tersaji di lokasi itu hanyalah hamparan eceng gondok yang subur di antara genangan air.

Namun, siapa sangka, ternyata di bawah kerimbunan tumbuhan rawa itu, terdapat ribuan makam warga.

"Kurang lebih ada sekitar 3.800 makam di tempat ini," ujar seorang pria tua bernama Nurman yang tak lain adalah pengurus pemakaman itu, Jumat 27 Maret 2015.


Nurman orang yang ditugaskan menjaga makam-makam tak terlihat itu menceritakan, pemakaman yang kini terkubur di bawah tanaman liar itu bernama "Pemakaman Kapuk Teko".

Areal pemakaman itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Itu dibuktikan dengan banyak makam yang berusia hingga lebih dari satu abad.

"Saya ditugaskan menjaga makam ini sejak tahun 1975," ujar Nurman sambil menyeka keringatnya.

Menurut Nurman, dahulu pemakaman itu ramai sekali dikunjungi peziarah terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri dan jelang memasuki Bulan Ramadan.

Tapi, sejak tahun 1995, jumlah peziarah semakin berkurang bahkan sudah tak ada lagi peziarah yang datang untuk mendoakan sanak keluarganya yang dikebumikan di pemakaman itu.

"Mereka tak lagi datang karena makam selalu kebanjiran, bahkan banjirnya sampai dua meter," tutur Nurman.

Lokasi pemakaman yang berada di dataran rendah menjadi alasan utama kenapa air di banjir di pemakaman itu tak pernah surut hingga akhirnya secara perlahan areal makam berubah menjadi sebuah rawa.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut