Ahli Bingung Beda Reaksi Sianida pada Hani dan Mirna

Ahli Patologi Forensik Australia Beng Ong (kanan) menjadi saksi ahli di sidang pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

VoxPop.co.id – Ahli Patologi Forensik dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia, Prof. Dr. Beng Beng Ong, bingung mengenai reaksi berbeda yang dialami korban Wayan Mirna Salihin dan saksi Hani Juwita.

img_title Terpopuler: Kasus Jessica Wongso Bisa Heboh Lagi, Kata Gus Miftah Soal Perang Palestina dan Israel

Padahal, keduanya sama-sama mencicipi kopi Vietnam yang dibuatkan Kafe Olivier di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Mirna tewas seketika, sedangkan Hani tak merasakan gejala apapun.

Menurut ahli patologi ini, semestinya ada sedikit gejala sianida yang dialami Hani, meskipun hanya sedikit. 

img_title Berkali-kali Kalah, Ini Alasan Otto Hasibuan Pantang Menyerah Bela Jessica Wongso

"Bagi saya, menemukan ini sangat aneh dan sulit dijelaskan. Salah satu alasannya adalah apabila kita mengasumsikan ada sianida di dalam kopi, maka jumlah yang ditelan dari Hani itu lebih sedikit. Dan kalau itu terjadi, meskipun Hani tidak kolaps, seharusnya Hani akan mengalami gejala keracunan sianida lain," ujar Ong, saat memberikan keterangannya dalam perkara pembunuhan Mirna di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa dini hari, 6 September 2016.

Di sidang, Ong juga menjelaskan beberapa gejala umum yang terjadi akibat terpapar sianida seperti perasaan terbakar, dan timbul rasa nyeri. Jika tersentuh kulit, akan menimbulkan iritasi. "Cairan sodium sianida bersifat sedikit korosif, jadi dapat membakar."

img_title Ada 70 Ribu Pengacara Siap Bantu Jessica Wongso, Otto Hasibuan: Repot tapi Senang

Menurutnya, autopsi menjadi satu-satunya cara untuk menjelaskan alasan kematian Mirna, karena proses keracunan hanya bisa diketahui dari pemeriksaan secara menyeluruh. Terutama, pada darah, yang menjadi faktor paling penting dalam mengungkap ada tidaknya racun di tubuh korban.

"Karena, racun yang masuk di darah akan mengalir ke seluruh tubuh dan menyebabkan kematian," ungkapnya.

Sementara itu, pada hasil autopsi, dua kali pemeriksaan pada kondisi lambung tak bisa mengungkap alasan kematian secara menyeluruh. Sehingga, membuka peluang adanya kemungkinan lain yang menyebabkan Mirna kehilangan nyawa. 

"Kemungkinan adanya racun lain tidak diperiksa (pada autopsi), maka keberadaan racun tersebut tidak bisa dikesampingkan," jelas Ong.

Ong juga memaparkan, sianida pada penggunaan yang tepat tidak akan menjadi racun. Sebab, sehari-hari zat kimia ini digunakan untuk industri, termasuk pembuatan pestisida, pembentukan senyawa logam. "Sianida juga digunakan tukang emas dan digunakan ahli kimia ketika mereka eksperimen."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut