Siswi SD Diduga Dicabuli Gurunya, Keluarga Datangi KPAI

Ilustrasi kekerasan pada anak.
Sumber :

VoxPop.co.id – Keluarga bocah berinisial KLF (9), siswi sebuah Sekolah Dasar (SD) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama kuasa hukumnya, Selasa, 25 Oktober 2016 sore.

img_title Total Hukuman Mario Dandy Usai Kasasi Ditolak MA: 18 Tahun Penjara Akumulasi Dua Kasus

KLF diduga menjadi korban pencabulan guru olahraganya, yang berinisial SAB (45). Mereka meminta KPAI mengawal kasus yang kini sedang ditangani di Polres Metro Jakarta Selatan itu, agar tidak jalan di tempat.

Kuasa hukum korban, Heriyanto Citra Buana, menjelaskan saat ini pelaku sudah ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan. "Kami ke sini berdasarkan fungsi KPAI untuk mengawal kasus ini. Untuk juga dapat memfasilitasi pemulihan korban secara psikis. KPAI juga mengatakan akan terus bersama kami mengawal proses ini," katanya di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 25 Oktober 2016.

img_title Ayah Kandung di Maluku Ditangkap Polisi Atas Dugaan Pencabulan Anak

Dia menceritakan, kejadian dugaan pencabulan terhadap kliennya itu sudah terjadi tiga kali dan berawal pada  September 2016. Pelaku, kata dia, melakukan aksi bejatnya itu di lingkungan sekolah.

Dia menjelaskan, pada 27 September 2016 terakhir kali pelaku melakukan pencabulan. Dua hari kemudian, korban mengaku kepada orangtuanya. Kemudian orangtua melaporkan ke kepolisian Jumat, 30 September 2016.
Selanjutnya, pada 3 Oktober 2016 pelaku ditangkap. "Guru olahraga itu mengajar di semua kelas. Modusnya jam olahraga di kantin, kolam renang, toilet," ujarnya.

img_title Eks Kapolres Ngada Jalani Sidang Perdana Kasus Pencabulan Anak, Digelar Tertutup

Hingga kini, KLF yang masih duduk di kelas 4 SD itu masih mengalami trauma atas kejadian tersebut. Apalagi, korban juga sempat diancam bila melaporkan hal itu pada orangtuanya.

"Ancaman ada. Korban kini trauma jika berhadapan dengan laki-laki dewasa. Ada saksi satu di kantin jam olahraga dan sudah dimintai keterangan. Dari korban juga tidak ada perlawanan karena takut," ujarnya.

Heri mengemukakan, pihak sekolah terkesan menutupi kasus yang melibatkan salah satu guru mereka itu. Sebab, pihak sekolah tidak kooperatif dalam memberikan penjelasan soal kejadian itu terhadap keluarga korban.

"Bilangnya arahan dari dinas supaya tidak membuat kegaduhan. Kami konfirmasi ke dinas, ternyata mereka enggak tahu ada kejadian ini. Mereka juga seolah enggak tahu. Pas kami lapor ke mereka baru seakan-akan kasus ini diusut," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut