Korban Banjir Masamba: Rumah Ibu di Bawah Sungai Ini
"Saya tatap air sungai keruh mengalir deras, di bawahnya ada rumah ibu dan dua orang kakak. Tergambar wajah ibu (Mihada, 1949-2018), kami memanggilnya mama, guratan wajah oval dan rambutnya yang memutih," katanya tak mampu menahan air mata.
Terngiang baginya, saat mereka berkumpul dan menikmati suasana kampung yang begitu sejuk. Masjid yang jika Ramadan tiba, tidak sepi dengan suara Alquran yang selalu dilantunkan. Hamluddin menjadi teringat saat dulu, sebelum rumah dan masjid itu tertimbun.
"Di bawah tanah tempat saya duduk, di situlah terpendam berjuta kenangan masa silam. Rumah ibu telah terkubur, tempat kami bercengkrama, rumah tempat kami melepas penat dan lelah dari kerasnya kehidupan ibu kota," katanya.
Di kawasan itu juga, ada Pesantren Al Fatah yang satu lokasi dengan rumah ibunya dan kedua kakaknya. Pesantren ini termasuk yang tidak tersisa sama sekali tersapu banjir bandang.
"Tadinya Pesantren Al Fatah masih lahan orangtua. Awalnya wakaf kakak, sebelumnya ibu wakaf masjid, (sekarang) habis semua. Di belakang ada SD Negeri 147 Indokoro, juga habis," katanya.
Ia menceritakan, sebanyak 200 santri Al Fatah berhasil selamat dan diungsikan. Tapi salah satu ustadnya, yakni Ustad Anas, tidak bisa tertolong setelah terseret arus banjir bandang. "Ditemukan di hari ketujuh. Posisi ditemukan sekitar 3 km dari lokasi pesantren," katanya.
Saat ini, Udin mengatakan hanya bisa bersih-bersih lumpur di rumah kakaknya yang lain. Hujan masih terus turun setiap malamnya. Banyak juga warga yang tidak berani kembali. Ia mengatakan, hingga kini bantuan pemerintah belum maksimal. (ren)
