Asa dari Alumni COVID-19 di Jawa Timur
- VoxPop/ Nur Faishal
Peran alumni COVID-19 itu tidak terbatas pada hal pencegahan penularan. Mereka juga didorong untuk membantu pasien COVID-19 lainnya agar cepat pulih. Ada kegiatan penyadaran masyarakat tentang COVID-19 yang terlanjur dianggap aib. Dengan begitu, pasien COVID-19 dan pasien yang masih dirawat tidak tersisihkan secara sosial. Dengan begitu kejiwaan pasien tidak terganggu sehingga cepat pulih.
Alumni juga didorong untuk mendonorkan plasma mereka. Plasma eks pasien dibutuhkan untuk disumbangkan sebagai terapi plasma convalescent kepada pasien COVID-19 kategori berat.
"Dengan plasma convalescent ini dirangsang pasien (kategori berat) ini agar antibodinya timbul," kata Kepala RSLI (KOGABWILHAN II), Laksamana Pertama dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga tak henti-henti menyemangati para alumni COVID-19 agar berperan aktif membagikan semangat mereka melawan COVID-19. Hampir setiap akhir pekan ia bersama para alumni COVID mengkampanyekan hidup sehat dan protokol kesehatan. Biasanya dengan bergowes bareng.
Tidak hanya dengan alumni RSLI, tapi juga dengan ribuan penyintas lainnya di seluruh daerah di Jatim. "Kami bersama kelompok penyintas, mereka adalah pasien COVID-19 yang sudah dirawat dan sembuh. Mereka ingin menyampaikan kepada saudara-saudara kita se-Jawa Timur, bahwa hari ini memang kita harus patuh disiplin menggunakan masker dengan benar," kata Khofifah di sela Gowes Bareng di Tulungagung beberapa waktu lalu.
Menggerakkan penyintas atau alumni COVID-19 adalah satu di antara banyak cara penanganan COVID-19 di Jatim. Hasilnya lumayan apik. Tingkat kesembuhan tinggi. Berdasarkan data per 23 September 2020, pasien yang sembuh sebanyak 33.978 orang atau 82.04 persen dari total kasus positif, 41.417. Di luar yang sembuh, masih terdapat 4.424 pasien yang masih dirawat. Adapun yang meninggal sebanyak 3.015 (7,28 persen). (ren)
