Gatot: Kami Ini Pensiunan yang Tahu Aturan, Apa Salah Kami
- ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Gatot selanjutnya menjelaskan aturan protokol dari dandim kepada para purnawirawan mengenai ada batasan 30 orang yang ziarah secara bergantian. Sebab, yang hadir saat itu, memang lebih dari 30 orang purnawirawan TNI.
Para purnawirawan TNI itu akhirnya mengikuti aturan tersebut dengan membatasi sebanyak 30 orang untuk masuk ke TMP secara bergantian. Meski, menurutnya, membingungkan jika upacara hanya 30 orang.
Baca Juga: Gatot Singgung PDIP, Effendi Simbolon: Sangat Naif
Namun, saat proses ziarah itu, hadir sekelompok massa yang onar di depan TMP Kalibata. Gatot merasa janggal karena kelompok massa itu bukan ditertibkan aparat petugas.
"Apakah mereka petugas menertibkan mereka. Alih-alih mereka yang ditertibkan tapi kami yang terus ditekan dihadapkan dengan tentara yang aktif. Apa pembiaran ini sengaja?" ujar Gatot.
Kemudian, ia menyinggung adanya pernyataan kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dalam ziarah ke TMP Kalibata. Gatot membantahnya karena tidak demikian. Kata dia, perwakilan KAMI yang menemaninya hanya Prof. Rochmat Wahab dan Ahmad Yani.
"Saya katakan itu bohong besar. Jangan bicara seperti itu. Tanya kepada Pak Harto. Yang ada itu purnawirawan semuanya. Saya pun sudah memakai baret hitam. Tapi, begitu banyak anak-anak pakai baret komando, saya pun orang komando, saya pakai baret merah," tuturnya.
"Kita semuanya ingin menghormati para senior kami yang mencurahkan pikiran, keringat, darah, dan bahkan nyawa, khususnya peristiwa G30SPKI," sebut Gatot.
Gatot heran sampai acara ziarah dan tabur bunga yang diinisiasi PPKN sampai diadang. Ia mempertanyakan alasannya.
Meski sudah ikuti aturan dengan hanya 30 orang ziarah secara bergantian, tapi tetap diteriaki dengan hasutan. Kata Gatot, ada teriakan hasutan dari kelompok di luar TMP agar acara ziarah PPKN dibubarkan karena pandemi Corona COVID-19.
"Begitu 30 yang baris, teriak-teriak COVID, segala macam, segera bubarkan. Ya, bagaimana yang lainnya kan ingin masuk bergantian ke makam pahlawan, malah disuruh pulang," ujarnya.
Dia menyindir petugas yang terkesan membiarkan kelompok onar di luar TMP. Namun, sebaliknya para purnawirawan ditekan. "Bukannya menertibkan yang demo. Malah seolah-olah kami yang tidak tertib," kata Gatot.
