Sultan HB X Berharap Aksara Jawa Bisa Bangkit di Era Digital
- VoxPop/Cahyo Edi
Berdasarkan data Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Sultan menyebutkan, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, 169 terancam punah karena jumlah penuturnya kurang dari 500 orang. Agar bisa bertahan, bahasa harus digunakan minimal 10 ribu orang untuk memastikan transmisi antargenerasi.
Hingga saat ini, baru ada tujuh aksara yang terdaftar di Unicode antara lain aksara Jawa (Hanacaraka) dan aksara Arab Pegon yang banyak terdapat dalam manuskrip berupa Serat, Babad dan Kidung yang tersimpan di Museum Widya Budaya Keraton Yogyakarta.
PANDI yang bekerja sama dengan Keraton Yogyakarta serta PBNU menemukan fakta bahasa daerah di dunia yang bisa diakses secara online kurang dari lima persen.
Sultan berharap orang tua tak perlu memaksa anak-anaknya mempelajari bahasa yang dianggap bergengsi, misalnya bahasa Inggris. Agar ada ketahanan bahasa, siswa dianjurkan belajar bahasa etnis lain dulu sebelum mengenal bahasa asing.
“Kita seharusnya mendorong penggunaan bahasa daerah agar tetap hidup, terutama di lingkungan keluarga,” kata Sultan.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim secara virtual menyatakan sebagai upaya memperkaya kebudayaan Indonesia mau tak mau pelestarian aksara Jawa mutlak dilakukan.
Nadiem mengakui, aksara Jawa saat ini sedang bertahan dengan susah payah di tengah-tengah penggunaan aksara latin. Melalui teknologi digital diharapkan aksara Jawa makin berkembang.
