Langkah Gubernur Atasi Pencemaran Limbah Sungai Malinau Dipertanyakan

Ilustrasi busa limbah di sungai.
Sumber :
  • VoxPopnews/Fernando Randy

VoxPop – Masyarakat yang bisa menggunakan Sungai Malinau, Kalimantan Utara, dirugikan setelah airnya tercemar diduga dari limbah tambang. Sebelumnya beberapa anggota DPR dari daerah pemilihan itu Deddy Sitorus, yang meminta ada penyelesaian terutama dari perusahaan.

img_title Pertamina Optimalkan Potensi Sawit dan Limbah Substitusi Impor BBM Dukung Ketahanan Energi Nasional

Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Zainal Arifin Paliwang, diharapkan bisa menangani masalah ini. Apalagi tercemarnya sungai tersebut, membuat masyarakat yang biasa mencari nafkah dari Sungai Malinau, kini terganggu. 

Karena ikan-ikan banyak yang mati, akibat limbah tambang yang bocor dari perusahaan yang diduga milik perusahaan tambang batubara PT. Kayan Putra Utama Coal (KPUC) di Desa Langap, kecamatan Malinau Selatan.

img_title Indonesia Punya 'Harta Karun' yang Sering Terbuang, Nilai Tambahnya Disebut Capai 9 Kali Lipat

Baca juga: Prajurit TNI AL Kepung Polsek Kalasan, Satu Polisi Diamankan

Ketua Lembaga Nasional Pemantau dan Pemberdayaan Aset Negara (LNPPAN) Kaltara, Fajar Mentari, mengatakan langkah Gubernur Kaltara justru dianggapnya salah. Sebab bukan langkah perbaikan atau memberi penjelasan ke masyarakat. Malah membuat program penaburan benih ikan dan udang gala ke Sungai Malinau. Kabarnya, benihnya didatangkan dari Yogyakarta dan Sukabumi oleh PT. KPUC.

img_title Olah Sampah dan Limbah Jadi Berkah, Pertamina Patra Niaga Gandeng Warga Sekitar Wilayah Operasional

Dia menilai, justru pemerintah ingin menghindari polemik mengenai pencemaran ini. Bahkan sampai meminta untuk tidak melanjutkan polemik, menurutnya langkah yang salah.

“Ini kan boleh dimaknai sebagai narasi sindiran kepada mereka yang mengkritisi persoalan ini," kata Fajar dalam keterangannya, Senin 26 April 2021.

"Sebagai pemimpin nomor 1 di Kaltara, tentu tidak sepantasnya beliau membangun narasi seperti orang yang sudah kehabisan kata-kata yang lebih elegan dan bijak. Suatu persepsi yang belum tentu benar, tapi menjadi dasar untuk menyindir tanpa alas bijak dan langsung dilepas lontarkan," tegasnya.

Dia mengatakan, apa yang dilakukan justeru mencederai perasaan para pemerhati lingkungna dan aktivis lingkungan. Seperti Lembaga Advokasi Lingkungan Hidup (Lalingka), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). 

Juga menurut dia, menyakiti perasaan warga masyarakat dan wakil rakyat yang selama ini memberi perhatian pada persoalan ini. Seperti anggota DPR dapil Kaltara, Deddy Yevri Hanteru Sitorus, yang bersuara keras terhadap kondisi di sana.

"Pernyataan gubernur itu sudah menjatuhkan integritas dan kredibilitas mereka. Terlepas pandangan mereka benar atau salah, mestinya bentuk kepedulian mereka itu disikapi positif, dihargai, didukung, diapresiasi. Jadi, jangan perusahaan saja yang boleh dapat apresiasi dong," jelasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut