Politikus Harus Pamer: Tangan Kanan Beri Sembako, Kiri Selfie
- DPC PKB Gowa
Wakil Ketua MPR itu menegaskan bahwa PDIP adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Menurutnya, gerakan itu adalah panggilan pengabdian mereka lewat aksi nyata dan perjuangan para relawan yang naluri semangat kemanusiaannya tidak pernah padam.
"Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat," tegas dia.
Harus Pamer
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, mengatakan bahwa pada prinsipnya sumbangan sembako yang ada gambar elite partai tidak masalah karena itu bagian dari kerja-kerja politik.
"Politisi itu harus pamer apa yang mereka lakukan pada rakyat," kata Adi saat dihubungi VoxPop, Rabu, 25 Agustus 2021.
Adi menuturkan parpol sering ditagih peran dan kontribusinya pada rakyat. Nah, pembagian sembako tersebut adalah salah satu jawabannya.
"Parpol memang harus mengumbar apa yang mereka lakukan," ujarnya.
Dia menjelaskan dalam perspektif politik, tebar sembako para politisi ke rakyat itu adalah wajar, dan lumrah-lumrah saja. Bahkan, menurutnya, kalau bisa sumbangan berlogo elite politik itu harus sering dilakukan untuk memprovokasi elite lainnya.
"Harus narsis memang. Istilahnya kalau zaman sekarang, tangan kanan memberi, tangan kiri memfoto dan memviralkan," katanya lagi.
Adi menambahkan kerja politik juga terkait dengan bagaimana mendapatkan simpati dan butuh pengakuan publik. Sering kali para politisi atau orang partai dalam situasi serba salah.
"Tidak memperlihatkan bantuan dikira enggak nyumbang. Kalau memberi sumbangan dikira mengejar popularitas atau elektabilitas saja," katanya.
Baginya, tujuan utama bantuan berlogo itu agar partai, sosok penyumbang, dinilai membantu rakyat yang kesulitan. Lalu mendapat simpati, perhatian dan semakin populer di mata mereka yang mendapat bantuan.
"Setelah itu berharap dipilih," katanya.
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto membagikan sembako
- FB Airlangga Hartarto
Tapi, benarkah pemberian bantuan sembako itu berbanding lurus dengan popularitas dan elektabilitas? Adi menyebut tidak juga.
Artinya, pemberian sembako secara masif tidak menjamin secara langsung apakah si politisi atau partai politik semakin populer, mendapat simpati atau tidak.
Meski demikian, lanjut dia, kerja politik seperti itu harus tetap dilakukan. Karena bila dari seribu sembako yang disebar, kemudian si politisi atau partai politik mendapat separonya (dari pemilih) maka itu sudah luar biasa.
