Eks Napi Lapas Narkotika Yogyakarta Ungkap Penyiksaan di Dalam Lapas
- VoxPopnews/Anhar Rizki Affandi
VoxPop – Sebanyak 10 orang mantan warga binaan di Lapas Narkotika II A Yogyakarta di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan DIY pada Senin, 1 November 2021. Mereka mengaku kerap disiksa selama mendekam di Lapas Narkotika IIA Yogyakarta.
Seorang dari mereka, berinisial VT (35 tahun), mengatakan penyiksaan mulai terjadi pada 29 April hingga 19 Oktober 2021, berupa ditelanjangi dan disiram air di depan semua petugas Lapas. Selain itu, dihajar oleh sipir dengan potongan kayu dan potongan selang air yang diisi cor-coran semen sampai memar dan luka-luka.
Dalam keadaan luka, dia dimasukkan ke dalam kolam lele. Karena tak diobati lukanya maka mengalami infeksi. Saat ibunya meninggal, dia tak diberi kabar oleh petugas Lapas, ditengarai karena dia sekujur tubuhnnya luka-luka sehingga tak boleh keluar sel.
"Hak saya mengantar mama saya waktu meninggal enggak dikasih. Saya malah disel kering selama lima bulan," katanya.
VT menyebut penyiksaan itu tak melulu karena ada kesalahan; kadang-kadang malahan kesalahan hanya berdasarkan versi sipir Lapas. "Contohnya, setiap jam sepuluh (siang) kita mendengarkan lagu Indonesia Raya. Kita berdiri dan hormat tapi ada yang ikut nyanyi terus ditarik, dipukuli, dan dimasukkan sel kering selama dua bulan," ujarnya.
"Teman saya ada yang dihukum karena enggak pakai baju di dalam sel," katanya, melanjutkan. "Disuruh ngguling-ngguling seratus meter bolak-balik. Dia pusing terus muntah. Muntahannya itu disuruh ambil pakai tangan terus disuruh dimakan."
Pelecehan seksual
VT menyebut ada juga pelecehan seksual yang dialami oleh warga binaan lain. Saat penggeledahan, katanya, ada seorang warga binaan yang kedapatan di alat kelaminnya ada manik-maniknya kemudian dipaksa dikeluarkan hingga mengalami luka.
"Dia terus disuruh onani saat kelaminnya luka pakai timun yang dilubangi dan dikasih sambal dalamnya. Terus timunnya suruh dimakan," katanya.
Ilustrasi narapidana.
- Istimewa
Karena penyiksaan itu, ditambah buruknya fasilitas kesehatan di sana, dia mengklaim, ada warga binaan yang sampai meninggal dunia, di antara mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru dan tak mendapatkan pengobatan yang memadai. Si warga binaan terlambat menerima obat-obatan dan ketika telah harus dirawat di rumah sakit, kondisinya tak tertolong lagu sehingga dua hari kemudian meninggal dunia.
