Puncak Toleransi Warga Tengger, Berbeda Agama tapi Satu Adat
- VoxPop.co.id/Lucky Aditya
"Desa Wonokitiri 99 persen Hindu, tetapi di Wonokitri saling menghargai walaupun Islam sedikit. Contoh Maulid Nabi diadakan di Balai Desa tidak apa-apa. Sama, begitu saat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi lampu mati. Itu semua dimatikan, toleransinya seperti itu," tutur Suhermawan.
Dalam agama Islam, budaya Lebaran saling mengunjungi saudara, kerabat dan tetangga mungkin menjadi hal yang lumrah diketahui saat Idul Fitri. Dalam adat Tengger juga memiliki budaya serupa. Terutama saat Hari Raya Karo atau Yadnya Karo. Ini hari raya kedua setelah Yadnya Kasada dari 12 bulan menurut kalender suku Tengger
Usai peringatan hari raya Karo, mereka memiliki budaya anjangsana. Umat hindu di Tengger mendatangi satu persatu warga tanpa melihat latar belakang agama. Mereka saling berkunjung dan memberikan jamuan kepada warga yang berkunjung.
"Saat Karo itu ada istilahnya Anjangsana, Agustus kemarin. Itu perhitungannya pakai kalender Tengger. Lebih seperti lebaran, saling berkunjung," kata Suhermawan.
Budidaya Edelweiss
- VoxPop.co.id/Lucky Aditya
Sebelum pandemi COVID-19 berbagai kegiatan keagamaan Hindu digelar secara kolosal, seperti saat Hari Raya Nyepi, warga hindu biasanya menggelar festival Ogoh-ogoh besar-besaran. Bahkan biasanya sampai membuat jalanan macet. Karena antusias dari warga Tengger yang cukup besar.
Di saat umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi dengan festival Ogoh-ogoh, umat muslim Tengger bertugas mengamankan dan mengatur lalu lintas.
Umat muslim Tengger mengatur jalan agar kawasan itu tetap lancar dan tidak macet. Hubungan yang hangat antarumat beragama di Tengger berjalan cukup lama dan langgeng.
"Ikut melaksanakan ketertiban lalu lintas orang hindu sembahyang orang muslim menjaga jalan. Dulu sebelum pandemi ada upacara agama yang memakai ogoh-ogoh. Yang muslim tidak ikut sembahyang tetapi ikut mensterilkan jalan. Lalu kalau Hindu sembahyang orang muslim mensterilkan jalan, mengatur lalu lintas," ujar Suhermawan.
Taman Edelweiss yang menjadi destinasi wisata dan budidaya edelweiss juga menjadi saksi toleransi di Tengger berjalan dengan baik. Suhermawan adalah sekretaris dari Kelompok Tani Hulun Hyang yang mengelola Taman Edelweiss.
Sedangkan ketuanya seorang muslim, yakni Teguh Wibowo. Mereka berdua sama-sama warga Suku Tengger. Satu Hindu dan satu Islam. Agama tidak menjadi pembeda karena mereka disatukan oleh adat.
