Guru Besar UI Kritik Selandia Baru Tak Peduli soal Pilot Susi Air: Aneh, Apakah Wajar?
- Dok. Istimewa
“Apapun alasan dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Selandia Baru hingga saat ini maka satu hal yang perlu dicermati yaitu operasi pembebasan tidak boleh menjadi beban bagi Indonesia," kata Hikmahanto.
"Baik beban finansial, beban reputasi internasional atau beban yang mungkin ditimpakan oleh rakyat Selandia Baru ketika operasi pembebasan gagal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hikmahanto membebekan untuk operasi pembebasan sangat membutuhkan biaya bahkan nyawa. Ia khawatir jika setiap warga asing memasuki wilayah tertentu di Papua sudah diperingati agar tak masuk tapi tetap berkeras untuk masuk.
Hikmahanto khawatir akan terjadi penyanderaan oleh KKB sehingga akan menelan biaya banyak yang mesti dikeluarkan pemerintah RI setiap kali terjadi penyanderaan.
“Apakah wajar bila biaya ini ditanggung oleh pajak rakyat Indonesia? Biaya ini sudah seharusnya menjadi tanggungan pemerintah dari warga negara yang disandera," Hikmahanto.
Sementara, di sisi lain, operasi pembebasan juga tak boleh mencederai reputasi RI di mata internasional bila menemui kegagalan. Pemerintah RI juga tak perlu punya beban reputasi buruk dan akan menjadi sorotan dunia ketika melakukan operasi pembebasan sandera.
Kata dia, pemerintah Selandia Baru sudah sewajarnya menyampaikan kepada dunia bahwa operasi pembebasan yang dilakukan oleh pemerintah RI merupakan opsi terbaik. Ia bilang tak seharusnya dunia berpandangan negatif terhadap Indonesia, utamanya dikaitkan dengan isu Papua.
“Rakyat Selandia Baru, khususnya keluarga yang disandera tidak boleh menyalahkan pemerintah Indonesia bila ternyata operasi pembebasan gagal," lanjut Hikmahanto.
"Untuk itu sudah sewajarnya bila pemerintah Selandia Baru memberi tahu secara dini kepada keluarga Philip Mark Mehrtens dan menyampaikan secara terbuka kepada rakyat di Selandia Baru,” ujarnya.
