Pleidoi Eks Anak Buah SYL, Edy Rahmayadi Siap Adu Gagasan hingga Heru Budi Bertemu Megawati
- VoxPop/M Ali Wafa
Jakarta – Pengakuan eks anak buah Syahrul Yasin Limpo (SYL), Muhammad Hatta dalam sidang nota pembelaan atau pleidoi menjadi berita terpopuler VoxPop.co.id kanal news. Hatta mengakui bahwa dirinya tak memiliki kekuasaan lebih untuk melakukan pemaksaan kepada seorang atasan atau pimpinan.
Lalu ada berita calon gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi yang siap beradu gagasan dengan Bobby Nasution di Pilgub Sumatera Utara. Keduanya diprediksi akan bertarung.
Kemudian berita terpopuler lainnya datang dari kasus pembunuhan yang melibatkan prajurit TNI bernama Prada Yuwandi di Pontianak. Prada Yuwandi tetap divonis penjara seumur hidup dan dipecat dari TNI meskipun sudah mengajukan kasasi atas kasus pembunuhan terhadap mantan tunangannya, Sri Mulyani.
Berita keempat soal 3 pimpinan lembaga yang diberhentikan tidak terhormat. Eks Ketua KPU Hasyim Asy’ari menambah daftarnya usai sebelumnya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Anwar Usman dan eks Ketua KPK Firli Bahuri. Ketiganya diberhentikan dengan kasus yang berbeda.
Terakhir ada berita pengakuan Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono yang mengaku kerap bertemu Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Lima berita terpopuler sepanjang Sabtu, 6 Juli 2024 bisa anda baca kembali dan sudah terangkum dalam round up di bawah ini:
1. Eks Anak Buah SYL Baca Pleidoi: Saya Cuma Bawahan Tak Miliki Kekuasaan Paksa Atasan
Sidang Tuntutan Mantan Direktur Alsintan Kementan, Muhammad Hatta
- VoxPop/M Ali Wafa
Mantan anak buah Syahrul yasin Limpo alias SYL, Muhammad Hatta mengajukan nota pembelaan atau pleidoi dalam kasus pemerasan dan penerimaan gratifikasi di Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Dalam pembelaannya, ia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan lebih untuk melakukan pemaksaan kepada seorang atasan atau pimpinan.
Muhammad Hatta membacakan nota pembelaannya atau pleidoi di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat,Jumat 5 Juli 2024. Hatta mulanya menjelaskan jenjang karirnya sebelum akhirnya menjabat sebagai direktur alat dan mesin di Kementan RI.
"Malangnya banyak yang menyangsikan jika ingin menjadi Direktur Pupuk maka harus sarjana pupuk, atau sarjana pertanian. Padahal posisi itu bukan membuat pupuk yang butuh ahli kimiawi. Di jabatan itu membutuhkan ilmu pemerintahan dan manajemen, bagaimana agar pupuk itu terdistribusi secara maksimal," ujar Hatta di ruang sidang.
