4 Menteri Bersama Warga Lakukan Aksi Bersih Sampah Kiriman di Pantai Kuta Bali
- VoxPop.co.id/Maha Liarosh (Bali)
"Jumlah sampah kiriman di pesisir Bali pada 2024-2025 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pada 2020-2021 yang mencapai sekitar 6.000 ton, sedangkan pada 2023 sekitar 2.900 ton," katanya.
Hanif menjelaskan, sumber sampah laut di Bali sebagian besar berasal dari daerah lain khususnya dari sungai-sungai di Pulau Jawa yang bermuara ke Laut Jawa. Bahkan berdasarkan data sumber timbunan sampah yang dibawa ke Pantai Kuta sebagian berasal dari negara lain.
"Sampah ini akan mengikuti arus dan bergerak ke arah timur kemudian ke selatan dan sebagian besar terdampar di Pantai Bali," ucapnya.
Karena itu, menurut Menteri LH RI, penting untuk berkolaborasi menangani sampah musiman di pantai-pantai di Bali secara konkret melalui kerja sama berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat.
"Apalagi Bali memiliki reputasi pariwisata internasional dan perlu juga edukasi lebih masif kepada masyarakat untuk bersama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan," ujar Menteri Hanif.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan,Zulkifli Hasan mengatakan, masalah sampah kiriman di Bali menjadi perhatian bersama pemerintah pusat karena selain berpotensi mengganggu aktivitas pariwisata, juga dapat berdampak langsung pada lingkungan hidup dan pangan.
"Bayangkan kalau dibiarkan, bisa-bisa lebih banyak sampah di laut daripada ikannya. Tentu ini mengganggu ketersediaan bahan perikanan kita nantinya," ujar Menteri Zulkifli saat mengikuti Aksi Bersih Pantai di Pantai Kuta.
Menko Pangan juga mengatakan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga komponen masyarakat untuk bersama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
"Kita ini negara kepulauan yang sangat besar, jadi kuncinya adalah kita harus bekerja sama menjaga lingkungan kita," ujarnya.
Pj.Gubernur Bali SM Mahendra Jaya mengatakan, peristiwa menumpuknya sampah di Pantai Kuta dan sekitarnya merupakan fenomena musiman di mana arus laut yang melewati kawasan pantai tersebut membawa sampah dari luar Bali, terutama dari Pulau Jawa. "Karenanya, kami terus mendorong upaya penanganan sampah yang juga melibatkan masyarakat," katanya.
Mahendra Jaya mengemukakan, sejatinya Bali sudah memiliki peraturan terkait penanganan sampah, yakni penanganan sampah berbasis sumber.
