Sisa Detonator Diduga Jadi Biang Kerok Ledakan di Garut, TNI AD Buka Suara
- tvOne
“Namun saat proses tersebut, drum yang berisi detonator tersebut tiba-tiba meledak,” ucap dia.
Peristiwa ledakan tersebut kemudian mengakibatkan empat anggota TNI dan sembilan warga sipil meninggal dunia.
Dia menyebutkan bahwa delapan orang korban dari pihak sipil merupakan pekerja harian lepas, sedangkan satu orang lainnya sedang berkunjung ke lokasi untuk menemui temannya.
“Para korban ditemukan dengan luka bakar berat dan beberapa di antaranya dengan bagian tubuh yang tidak utuh,” katanya.
Wakil Ketua Komnas HAM Abdul Haris Semendawai
- ANTARA/Agatha Olivia Victoria
Berdasarkan temuan Komnas HAM lainnya, disebutkan bahwa 21 orang sipil dipekerjaaan untuk membantu proses pemusnahan dengan upah rata-rata Rp 150 ribu per hari.
Para pekerja itu juga disebut diajarkan ataupun belajar secara otodidak selama bertahun-tahun, tidak melalui proses pendidikan maupun pelatihan yang tersertifikasi.
“Para pekerja tidak dibekali dengan peralatan khusus atau alat pelindung diri dalam melaksanakan pekerjaanya,” tuturnya.
Oleh karenanya, Komnas HAM terkait dengan hal itu merekomendasikan supaya lahan tersebut ditutup permanen dan juga dikembalikan sebagai kawasan konservasi.
Tak hanya itu, Komnas HAM meminta kepada TNI untuk ke depannya memastikan agar tidak ada lagi warga sipil yang terlibat dalam kegiatan pemusnahan yang dinilai berbahaya itu.
Sebelumnya diberitakan, Sebuah insiden tragis terjadi di lokasi pemusnahan munisi afkir milik TNI Angkatan Darat di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, pada Senin pagi.
Ledakan hebat yang terjadi sekitar pukul 09.30 WIB menyebabkan 13 orang meninggal dunia, terdiri dari anggota TNI dan warga sipil.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Wahyu Yudhayana menjelaskan kronologi peristiwa tersebut. Menurutnya, kegiatan pemusnahan munisi tidak layak pakai itu dimulai pada pukul 09.30 WIB oleh jajaran Gudang Pusat Munisi 3, Pusat Peralatan Teknik Angkatan Darat.
Dia mengatakan, sebelum kegiatan, dilakukan pengecekan terhadap personel dan kondisi lokasi dan semuanya dinyatakan dalam keadaan aman. Tim kemudian memulai proses penghancuran munisi di dua lubang sumur yang telah disiapkan.
“Setelah seluruh tim pengamanan menempati pos masing-masing, peledakan dilakukan dan berjalan lancar tanpa kendala,” kata Wahyu, Senin sore.
