Ini Profil Dai 3T Pemenang Anugerah Syiar Ramadan 2025

Dai 3T yang Dapat Penghargaan Anugerah Syiar Ramadan 2025
Sumber :
  • Kemenag

Jakarta, VoxPop - Tiga orang dai yang mengabdikan diri mereka di daerah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T, mendapat ganjaran penghargaan dari Kementeria Agama. Penghargaan diberikan dalam ajang Anugerah Syiar Ramadan (ASR) 2025.

img_title Sabtu Ini, Kemenag Gelar Doa dan Dzikir Kebangsaan di Monas Rayakan HUT ke-81 RI

Ketiga dai tersebut adalah Atropal Asparina, Abdul Latif, dan Aji Suprapto. Mereka berdedikasi dalam dakwah Islam pada daerah 3T. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menegaskan kalau penghargaan ini sebagai penghormatan terhadap mereka atas perannya. Dimana sebagai ujung tombak dari dakwah Islam yang dilakukan di peloson Tanah Air.

“Para dai yang bertugas di wilayah 3T adalah ujung tombak dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin di pelosok negeri. Mereka hadir mengisi ruang kosong dakwah dengan pendekatan yang edukatif dan moderat,” ujar Zayadi, di sela kegiatan ASR 2025.

img_title Perjalanan Berjam-jam Lintasi Laut hingga Menembus Hutan Demi Wilayah 3T Dapat Akses Layanan Keuangan

Penilaian terhadap mereka dilakukan tim internal Subdirektorat Dakwah dan HBI berdasarkan laporan kegiatan para dai. Ketiga dai yang terpilih dinilai dari program dakwah yang inovatif.

Dakwah yang Membumi

img_title Peradi Profesional Jalin Kerja Sama dengan 112 Universitas Negeri dan Swasta di Bawah Kemenag se-Indonesia

Aji Suprapto (35), Adalah salah satu dai 3T yang berasal dari Bekasi. Ia tidak menduga sampai disebut di panggung ASR. Selama Ramadan, ia mengabdi di Kampung Zakat, Desa Selajambe, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dalam berdakwah, ia tidak pernah berpikiran untuk mendapatkan penghargaan.

“Saya benar-benar terharu. Tidak pernah punya ekspektasi apa pun. Ini rezeki yang datang dari arah yang tak disangka,” katanya.

Dakwah itu jalan pengabdian, begitu prinsip Aji. Pendekatan yang dilakukannya pada masyarakat sangat humanis dan membumi. Dengan cara penggunaan bahasa yang sederhana mudah dipahami warga, sembari menyelipkan nilai-nilai Islam dalam percakapannya. Menyapa masyarakat tidak hanya di masjid tetapi juga di tempat mereka beraktivitas seperti sawah, warung kopi, hingga saat gotong royong.

Metode yang digunakannya adalah menggunakan pendekatan adat dan tradisi setempat.  Tidak menggurui dan formal, tetapi masuk menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pengajian dari rumah ke rumah lewat pengajian keluarga, juga dilakukannya. Juga berbagai kegiatan seperti pelatihan ibadah praktis untuk remaja dan lansia, serta kegiatan sosial seperti berbagi sembako, bersih-bersih masjid, dan bimbingan keluarga sakinah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut