Denny JA: Make Pertamina Great Again!
- Istimewa
Dengan dukungan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), eksplorasi aktif, dan percepatan perizinan, hubungan yang lebih sinergis antara Pertamina dan SKK Migas, angka ini realistis dan dapat dicapai.
Kedua, keterlibatan swasta seluas mungkin. Negara tak bisa berjalan sendiri, tapi membutuhkan energi kewirausahaan, inovasi teknologi, dan efisiensi biaya dari sektor swasta.
Namun pelibatan ini tetap harus berada dalam koridor pengawasan, transparansi, dan keberpihakan pada kepentingan nasional.
Ketiga, ekosistem energi yang berkeadilan. Kebangkitan energi bukan sekadar urusan volume produksi, tapi juga menyentuh keadilan sosial.
"Masyarakat dan daerah penghasil harus diberdayakan. Program CSR mesti menjangkau pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan ekonomi lokal," katanya.
Lebih lanjut, Denny JA mengatakan, kebangkitan Pertamina tak boleh hanya bersifat teknokratis, tapi harus berakar pada imajinasi bangsa.
Dalam ranah CSR dan sponsorship, Pertamina akan perlu menghidupkan inisiatif budaya. Misalnya “Pertamina Peduli Budaya” akan mendukung Festival Budaya Tahunan yang merangkul film, musik, dan sastra.
"Karena bangsa yang besar bukan hanya ditandai oleh kekuatan ekonominya, tapi juga oleh kekayaan narasinya dan keberanian imajinasinya," ucapnya.
Sebelumnya, Denny juga berdiskusi dengan Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Awang Lazuardi, untuk menyusun langkah-langkah strategis yang tak konvensional.
Keduanya percaya bahwa kemandirian energi hanya bisa tercapai melalui ekosistem kolaboratif. Ini dengan membuka ruang partisipasi yang luas bagi sektor swasta dalam pengembangan hulu migas.
Dewan Komisaris PHE kini berisi delapan tokoh luar biasa. Di awal perkenalan, ia pun berseloroh 'Kalau Marvel punya The Fantastic Four, maka kita: The Fantastic Eight," tegasnya.
Ia juga mengaku didampingi komite ahli yang berpengalaman. Struktur subholding pun mulai direvitalisasi dengan semangat efisiensi dan transparansi.
Menurutnya, kemandirian energi adalah mandat peradaban, dimana bukan sekadar urusan barrel atau dolar. Kemandirian pangan, lanjutnya, menentukan apakah Indonesia bisa menentukan arah nasibnya sendiri, atau terus bergantung pada pasar global dan tekanan geopolitik.
Jika ingin membuat Pertamina Great Again, maka perusahaan ini tak cukup dibangun sebagai entitas bisnis, tapi harus tumbuh sebagai gerakan nasional.
