Jet Tempur F-15EX vs KF-21, Pilihan Sulit Indonesia yang Bisa Tentukan Masa Depan Pertahanan Udara
- The National Interest
Komentar Langsung dari Boeing
Dalam wawancara dengan Janes, media pertahanan terkemuka, Clara Logsdon, pejabat senior Boeing, mengatakan, “Kami sangat percaya bahwa kesepakatan F-15EX pada akhirnya akan terwujud. Minat Indonesia terhadap F-15EX sangat jelas.”
KF-21 Boramae: Antara Impian dan Utang
Di balik ketertarikan pada F-15EX, Indonesia juga masih terikat proyek besar dengan Korea Selatan, yakni KF-21 Boramae. Proyek ini sejak awal diposisikan bukan hanya soal membeli jet tempur, melainkan juga transfer teknologi.
VoxPop Militer: Wamenhan RI hadiri Flight Test Pesawat Tempur KF-21 di Korsel
- Kemhan RI
Janji Transfer Teknologi
Dalam kesepakatan awal, Indonesia menyanggupi menanggung 20 persen biaya proyek KF-21 yang totalnya mencapai sekitar Rp100 triliun. Harapannya, PT Dirgantara Indonesia bisa mendapat akses teknologi mutakhir dan memperkuat industri dalam negeri.
Namun, perjalanan proyek tidak mulus. Media Korea Selatan, Yonhap News Agency, melaporkan bahwa Indonesia menunggak pembayaran hingga mencapai Rp16 triliun. Kondisi ini membuat Seoul sempat meragukan komitmen Jakarta untuk tetap bertahan dalam proyek.
Kesepakatan Baru 2025
Setelah negosiasi panjang, pada Juni 2025 kedua negara akhirnya menyepakati restrukturisasi pembayaran. Indonesia berjanji tetap berpartisipasi, tetapi dengan skema pembayaran yang lebih fleksibel agar tidak terlalu membebani keuangan negara.
Langkah Indonesia dalam mengelola program jet tempurnya dipandang unik oleh analis militer luar negeri.
Asian Military Review menulis, “Indonesia tampaknya berusaha menyeimbangkan kepentingan strategis dengan AS, Korea Selatan, dan juga Prancis melalui pembelian Rafale. Walau membingungkan, strategi ini bisa jadi cermin upaya menjaga hubungan geopolitik yang rumit.”
Bagi TNI AU, F-15EX menjanjikan kemampuan tempur yang siap digunakan dalam waktu dekat. Namun, KF-21 memberikan kesempatan emas bagi industri pertahanan Indonesia untuk belajar, meski risikonya adalah penundaan dan utang.
Politik Luar Negeri Ikut Berperan
Keputusan Indonesia bukan hanya soal teknis militer, tetapi juga geopolitik. Membeli F-15EX bisa mempererat hubungan dengan AS, sementara tetap berkomitmen pada KF-21 menjaga kedekatan dengan Korea Selatan.
Masa depan Angkatan Udara Republik Indonesia ditentukan oleh pilihan sulit antara jalan pragmatis atau idealis. Jika memilih F-15EX, Indonesia akan langsung mendapat superioritas udara dengan teknologi teruji. Namun, bila bertahan pada KF-21, Indonesia akan punya kesempatan membangun kemandirian industri meski dengan konsekuensi panjang.
