Begini Cara Pemimpin Muda Sadar Iklim Lawan Kebijakan Wisata Toxic
- Dok. Istimewa
Kemudian, Badan Pemuda Adat Nusantara NTB, Lalu Kesuma Jayadi menyoroti peran masyarakat adat dalam menjaga lingkungan. Ia menjelaskan, masyarakat adat Sasak memiliki kearifan ekologis yang tinggi, seperti aturan adat dalam menebang pohon dan tradisi Rebo Bontong yang memberi waktu laut untuk “bernapas”.
"Kearifan lokal ini bisa menjadi solusi menghadapi krisis iklim dan degradasi lingkungan," kata Lalu.
Lalu menambahkan, pengakuan terhadap masyarakat adat sangat penting agar mereka bisa berperan lebih aktif dalam pengelolaan sumber daya alam. Sejak 2021, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mendorong lahirnya perda pengakuan masyarakat adat di NTB sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap hak kelola mereka.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata NTB, Chandra Aprinova menjelaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tiga agenda besar saat ini, yaitu pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
"Konsep pariwisata ini menekankan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan tetap menghormati budaya lokal," tutur Chandra.
Chandra menyebut, sejumlah program telah dijalankan pemerintah, seperti gerakan wisata bersih, pelatihan sumber daya manusia pariwisata, pengawasan industri pariwisata, dan promosi budaya.
Dia memastikan, pariwisata berkelanjutan bukan hanya soal membangun destinasi baru, melainkan tentang bagaimana menciptakan pengalaman yang autentik, menarik, dan bermanfaat bagi masyarakat setempat.
"Lingkungan yang rusak berarti hilangnya daya tarik wisata, yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat setempat," katanya.
