Anak Muda Dinilai Punya Peran Utama dalam Demokrasi di Ruang Digital

Peneliti Understanding Youth Engagement and Civic Space Indonesia Muhammad Fajar
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Peneliti Utama Understanding Youth Engagement and Civic Space Indonesia, Muhammad Fajar merespons data Civicus Monitor terkait peringkat demokrasi di Indonesia hanya menduduki posisi 48 dari 100. 

img_title Bikin Konten Viral Saja Tak Cukup, Kreator Kini Dituntut Punya Literasi Digital

Fajar melakukan riset terhadap anak muda yang memahami pelemahan demokrasi dan merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, merumuskan strategi sosial-politik dalam penyempitan ruang sipil melalui risetnya yang berlangsung mulai dari November 2024 hingga Februari 2025.

"Terdapat dua literatur teoritik yang menjadi landasan studi ini. Dua diantaranya adalah pandangan kejelasan yang sifatnya elitis dan pandangan yang berfokus pada kelompok masyarakat," kata Fajar dalam keterangan yang diterima, Jumat, 12 Desember 2025.

img_title Fenomena Diskon Besar di Industri Game, Bagaimana Promo Digital Membentuk Kebiasaan Belanja Gamer Modern

Menurut dia, temuan kunci dari riset kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling adalah persepsi pemuda terhadap ruang sipil sangat bervariasi. Perbedaan antar wilayah dan pendapatan dinilai sangat berpengaruh terhadap persepsi pemuda di ruang sipil.

"Namun secara keseluruhan, membuktikan pengalaman sosial ekonomi mempengaruhi anak muda dalam menilai ruang sipil saat ini," jelas dia.

img_title Kerja Nyata Jadi Tolok Ukur Organisasi Berkualitas, Angela Tanoesoedibjo Dorong Legislator Hadir untuk Masyarakat

Fajar menjelaskan ada empat poin penting terkait hasil riset kualitatif yang dia temukan. Pertama, perasaan aman dan tidak aman yang dialami oleh organisasi atau kelompok sosial dalam ruang sipil dipengaruhi oleh sejauh mana kedekatan dan keterlibatan mereka dengan pemerintah. 

Berdasarkan hasil riset, kata dia, semakin jauh organisasi dengan pemerintah, mereka semakin merasa tidak aman.

"Kedua, Needs and Expectations, pemerintah memiliki keharusan dalam menjamin dan memenuhi hak-hak politik dan sipil. Ketiga, Hopes in the Government, organisasi atau kelompok sosial saat ini masih terbagi menjadi dua kubu, yaitu kelompok/organisasi yang mengharapkan intervensi dari pemerintah dan kelompok organisasi yang menentang pemerintah," kata dia.

"Keempat, Strategies to Counter Democratic Backsliding, menghadapi kemunduran demokrasi, kita harus menggandeng energi progresif anak muda, memperkuat organisasi sebagai ruang belajar, dan memperluas jejaring," ujar Fajar.

Dalam kesempatan yang sama, Co-Founder dan Executive Director Yayasan Partisipasi Muda, Neildeva Despendya mengatakan, ruang sipil yang seharusnya menjadi pondasi demokrasi saat ini.

"Ada lima indikator civil society bisa dikatakan sehat, Pertama, kebebasan berasosiasi, kebebasan untuk berkumpul, dan kebebasan berekspresi. Kedua, peran negara dalam melindungi hak-hak fundamental. Ketiga, ruang publik untuk kegiatan sosial, politik, dan budaya. Keempat lingkungan yang mendukung diskusi dan keberagaman pendapat. Kelima, kebebasan untuk mengkritik dan menyampaikan pandangan baik secara daring maupun luring. Keenam, kebebasan untuk mengkritik dan menyampaikan pandangan baik secara daring maupun luring," kata Neildeva.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut