Anak Muda Dinilai Punya Peran Utama dalam Demokrasi di Ruang Digital
- Dok. Istimewa
Neildeva menegaskan, hambatan bagi orang muda bukanlah soal ruang, melainkan hambatan struktural, seperti risiko hukum, keamanan daring, dan lemahnya institusi.
Sementara itu, Dekan FISIP Unhas, Sukri menyatakan, pemuda saat ini berada dalam era digital, sehingga nilai-nilai yang membatasi akan semakin banyak dalam sehari-harinya.
"Era digital ini Generasi Z menjadi aktor baru yang memperluas ruang sipil ke ranah virtual (digital civic space). Kebebasan individu kini bertransformasi menjadi kebebasan berekspresi digital, sedangkan kontrol negara hadir melalui regulasi siber dan sistem informasi," tutur dia.
Sukri mengungkap, ruang sipil yang modern mencerminkan pergeseran kekuasaan dari institusi ke jaringan yang meletakkan generasi muda sebagai salah satu penggerak utama perubahan politik kultural. Sebab, kebebasan dalam ruang sipil bergantung pada kesepakatan bersama.
"Temuan riset menunjukkan bahwa aktivitas sosial informal seperti kegiatan komunitas, bantuan sosial, relasi langsung lebih efektif daripada politik formal. Selain itu, teori lama tentang rational voter nampaknya mulai tergeser oleh realitas baru yakni emotional voter dan identity-driven participation di kalangan pemuda," jelas Sukri.
"Ruang sosial dan digital kini menjadi medan politik utama bagi generasi muda," sambungnya.
