Eks Napiter Ungkap Alasan Kelompok Teroris Memilih Kripto untuk Pendanaan
- VoxPop/Muhammad AR
Munir berharap pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi pendanaan terorisme melalui kripto. "BNPT sebagai leading sector bisa terus bekerja sama dengan kementerian atau lembaga lain karena tidak mungkin BNPT yang intervensi akun atau rekening," kata dia.
Dalam hal ini, kata Munir, BNPT bisa terus menjalin kerja sama dengan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). "PPATK harus sering mengecek transaksi rekening lintas batas negara. Sementara Komdigi dalam kapasitasnya mengawasi ruang digital," ujarnya.
Selain itu, Munir juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penggalangan dana di internet. "Masyarakat harus kritis. Untuk apa penggunaan dana itu? Jangan sampai nantinya dipakai untuk membeli kripto lalu dipakai buat kegiatan terorisme," ucap dia.
Seperti diketahui, dua sekolah internasional di Tangerang Selatan, Banten, dan satu sekolah internasional di Kelapa Gading, Jakarta Utara, mendapatkan teror ancaman bom pada awal Oktober 2025 lalu. Modus ancamannya sama, yakni meminta tebusan berupa uang kripto sebesar USD 30 ribu.
Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2015 lalu. Ketika itu, seorang bernama Leopard Wisnu Kumala mengancam Mall Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten, dengan bom. Ia meminta tebusan uang kripto berupa 100 bitcoin atau sekitar Rp 300 juta.
