KM Putri Sakinah Baru Selesai, SAR Labuan Bajo Langsung Cari Pelajar SMP Tenggelam di Tiwu Pai
- Jo Kenaru/tvOne/NTT
Manggarai, VoxPop – Personel dari Pos SAR Labuan Bajo baru sehari istirahat dari Operasi SAR selama 15 hari mencari korban kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di Selat Padar. Kini tim yang sama dikerahkan ke Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka ditugaskan untuk mencari Armendo Jeferson, pelajar kelas IX SMP St. Fransiskus Xaverius Ruteng yang tenggelam saat berenang di air terjun Tiwu Pai di Dusun Wontong, Desa To'e, Kecamatan Reok Barat, Minggu, 11 Januari 2026.
Lokasi pencarian melewati lintas utara dari Labuan Bajo dan memakan waktu 3,5 jam dengan kendaraan roda empat.
Pencarian hari kedua yang diperkuat oleh Pos SAR Labuan Bajo berjalan di tengah cuaca buruk: hujan lebat dan banjir besar membuat tim selam kehilangan jarak pandang akibat air yang keruh.
"Tadi sudah selam dua kali pada kedalaman dua hingga tiga meter. Sekarang masih istirahat sambil tunggu cuaca membaik. Di bawah (kolam) arusnya deras dan keruh," ujar Arif, personel dari Pos SAR Labuan Bajo, via WhatsApp, Senin, 12 Januari 2026.
Dalam pencarian ini, Pos SAR Labuan Bajo dilengkapi peralatan penting yakni alat selam 2 set, Aquaeye 1 unit, Mountenering/ alat Vertikal Rescue 1 set dan perlengkapan safety air lainnya.
"Personil melakukan deteksi menggunakan alat Aquaeye di permukaan air setelah itu melakukan penyelaman," terang Arief.
Selain penyelaman, tim SAR gabungan, lanjut Arif, juga mengintensifkan penyisiran ke arah hilir.
"Tadi sudah melakukan penyelaman di titik LKM dan melakukan penyisiran ke arah hilir," pungkasnya.
Upaya pencarian korban yang berasal dari Orong Kecamatan Welak Manggarai Barat ini melibatkan personel Polsek Reo bersama Satpolairud Polres Manggarai, Babinsa Koramil 1612-03 Reo, dan dibantu masyarakat setempat.
Krologi Kejadian
Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, mengungkapkan bahwa sekelompok remaja dari SMP St. Fransiskus Xaverius Ruteng, yang sedang berlibur di Air Terjun Tiwu Pai, terdiri dari 11 orang. Di antara mereka, terdapat 8 perempuan dan 3 laki-laki.
Mereka berangkat dari Ruteng, menempuh perjalanan 2,5 jam dengan lima sepeda motor secara berboncengan.
