Gus Ipul: Digitalisasi Bansos Kurangi Kesalahan Data Penerima Manfaat

Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Hotel Sultan, Jakarta Pusat
Sumber :
  • Yeni Lestari/VoxPop

Pasuruan, VoxPop – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan digitalisasi bantuan sosial (bansos) mampu menurunkan persentase angka kesalahan sekaligus meningkatkan akurasi data penerima manfaat secara signifikan.

img_title Dorong Ekosistem Digitalisasi Pengadaan, ICEF-IPFE 2026 Pertemukan Pelaku Usaha dengan 15 Ribu Buyer Pemerintah

Dalam agenda sosialisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) di Kabupaten, Gus Ipul menyebutkan hal tersebut merujuk pada hasil uji coba di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

"Dari hasil uji coba, kesalahan data penerima bansos melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) berkurang secara signifikan, meski masih tinggi," kata Gus Ipul di Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu, 7 Februari 2026.

img_title DPR: Penyaluran Bansos yang Tepat Sasaran Ditentukan oleh Kualitas Data Kependudukan

Penyaluran bansos Program Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH)

Photo :
  • Dok. Pos Indonesia

Ia menuturkan sebelum adanya sistem digitalisasi melalui DTSEN, tingkat kesalahan data penerima manfaat yang tidak terdaftar atau exclusion error untuk PKH berada di angka 77,7 persen sedangkan untuk BPNT berada di angka 70 persen.

img_title BTN Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemprov Dorong Malut Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional

Setelah uji coba yang dilaksanakan bersama Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah dan sejumlah kementerian dan lembaga terkait, kesalahan data dapat diturunkan menjadi 28,2 persen untuk PKH dan 17,6 persen untuk BPNT.

Sementara untuk kesalahan data pada penerima manfaat yang terdaftar (inclusion error) menunjukkan adanya pengurangan dari 46,5 persen menjadi 39,8 persen untuk PKH, dan dari 37,7 persen menjadi 29,6 persen untuk BPNT.

"Harapannya agar kesalahan data dapat ditekan sampai di bawah sepuluh persen atau bahkan lima persen," katanya.

Ia mengaku akurasi data tidak mungkin menyentuh angka 100 persen dengan banyaknya dinamika sosial dalam keseharian masyarakat seperti kelahiran, kematian, perpindahan warga maupun naik turunnya kemampuan ekonomi suatu keluarga.

Ia berharap melalui pembaruan DTSEN yang akan dilaksanakan secara terus menerus setiap harinya, dibarengi dengan laporan per tiga bulan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) baik di tingkat daerah hingga nasional, dapat terus meningkatkan keakuratan data penerima bansos.

Ia pun memastikan uji coba tersebut juga akan terus dilaksanakan sepanjang 2026, dengan target pelaksanaan di 40 kabupaten/kota di Indonesia.

Ilustrasi Bansos BLT

Photo :
  • VoxPop Bandung

Menurutnya, pada pertengahan tahun diharapkan hasil evaluasi dari uji coba itu dapat terangkum dengan baik dan menjadi rujukan untuk penerapan digitalisasi bansos di berbagai daerah Indonesia secara lebih luas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut