Orang Basudara, Laboratorium Hidup Perdamaian di Bumi Rempah
- Ist
Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena merupakan panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kederahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.
"Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama," kata Bodewin.
Wajah Damai Maluku
Bodewin menegaskan Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.
"Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara yang secara konkret melalui pendekatan LKLB," ujar Bodewin.
Komitmen pemerintah daerah pun berupaya memperkuat citra Maluku sebagai daerah yang aman dan inklusif dengan mendorong kearifan lokal sebagai sarana memperkenalkan wajah damai Maluku kepada dunia, serta memperkuat identitas kolektif sebagai masyarakat yang hidup dalam semangat persaudaraan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
Khusus di Ambon, kata dia, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai "UNESCO City of Music".
Sebanyak 16 guru alumni LKLB beragama Islam dan Kristen yang menyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, yakni lagu berbahasa Maluku bertemakan perdamaian. "Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara," ujar Matius.
