Generasi Muda Diingatkan Tentang Bahaya Kepentingan Asing
- vstory
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto turut memberikan perspektif terkait pola teror yang menimpa kelompok kritis. Ia mengingatkan adanya potensi provokasi yang bertujuan membangun opini bahwa pemerintah bersifat otoriter.
“Kita ini bukan anak kecil, kita sudah hidup lama. Kadang-kadang ada peristiwa yang justru dibuat seolah-olah... Anda mengerti ya? Itu namanya provokasi. Itu ada di buku intelijen, namanya false flag operation,” tegas Prabowo.
Ia menjelaskan bahwa false flag operation merupakan taktik di mana suatu aksi dirancang agar tampak dilakukan oleh pihak tertentu, padahal pelaku sebenarnya adalah pihak lain, dengan tujuan mengalihkan tuduhan dan membentuk persepsi publik.
Prabowo juga menganalogikan praktik tersebut dengan sejumlah peristiwa di tingkat internasional yang kerap dimanipulasi aktornya. Dalam konteks nasional, ia mengisyaratkan bahwa rentetan kejadian yang menimpa tokoh-tokoh kritis dapat dimanfaatkan untuk merusak citra demokrasi.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa maraknya konten kritis di media sosial justru menunjukkan ruang kebebasan berpendapat tetap terbuka.
“Kalau orang bebas mengkritik di media sosial, itu artinya demokrasi kita hidup,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk provokasi dan operasi informasi yang dapat memengaruhi persepsi publik. Dalam dinamika global saat ini, persatuan nasional dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan negara.
