Lora Shofwan: Independensi dan Kedaulatan NU Adalah Jantung yang Harus Dijaga
- tvOnenews/Aldi Herlanda
"Secara psikologis organisasi, kondisi ini tentu membuka potensi kompleksitas yang tidak sederhana," ucapnya.
Di sisi lain, Gus Ipul dan Prof. M. Nuh dikenal sebagai birokrat berpengalaman dari lingkar kekuasaan, dengan jalur dan rekam jejak yang jelas. Mereka, kata dia, memiliki kemampuan konsolidasi yang kuat dan rasional dalam perhelatan besar seperti muktamar.
Sementara itu, KH Said Asrori dan H. Amin Said Husni dikenal sebagai pengabdi setia yang relatif baru, sekitar lima tahun, berkecimpung di lingkungan PBNU, dan keduanya pun belum sepenuhnya mengakar kuat dalam tradisi pesantren.
"NU bukan milik segelintir orang, apalagi untuk dimanfaatkan dalam event muktamar demi kepentingan politik praktis dan pragmatis," kata Lora Shofwan.
"Independensi dan kedaulatan NU adalah jantung organisasi yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh," tambahnya.
Ia menilai segala bentuk pengingat kritis terhadap NU tak semestinya dipandang sebagai sikap oposisi. Sebab, lanjut dia, keterbukaan alam pikiran harus diiringi dengan keterbukaan nasihat demi kebaikan bersama.
"Ini adalah tanggung jawab moral kami di akar rumput—untuk memastikan jam’iyyah tidak tergelincir menjadi alat kepentingan praktis, pragmatis, atau bahkan sekadar kendaraan bagi ambisi kekuasaan," ujarnya.
