Pengakuan Heru Relawan GSF yang Ditahan: Disiksa dengan Cara Dijemur hingga Dipaksa Dengar Lagu Israel

9 WNI yang Ditangkap Militer Israel Tiba di Istanbul
Sumber :
  • Tangkapan layar Instagram Menlu RI

Tangerang, VoxPop – Relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 asal Indonesia Rahendro Herubowo mengungkap, perlakuan brutal yang dialaminya selama ditahan otoritas Israel usai kapal kemanusiaan yang ditumpanginya dicegat di Laut Mediterania.

img_title Hamas Respons Pernyataan Trump: Tidak Ada Pelucutan Senjata Sebelum Israel Mundur dari Gaza

Heru mengaku dirinya bersama relawan lain dipaksa telungkup berjam-jam di bawah terik matahari sambil diperdengarkan lagu Israel berulang-ulang oleh petugas.

Kesaksian itu disampaikan Heru setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3, Tangerang, Banten, Minggu 24 Mei 2026, setelah berhasil dipulangkan ke Indonesia.

img_title Netanyahu Tak Takut Ditangkap Negara Anggota ICC atas Dugaan Kejahatan Perang, Ini Alasannya

“Dan itu cukup menguras tenaga ya, bahkan pas terakhir sebelum kita dibawa ke imigrasi, kita harus jongkok, dijemur jam 12 siang itu dijemur dengan posisi telungkup, kita suruh mendengarkan lagu mereka, lagu Israel,” kata Heru.

Relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 asal Indonesia Rahendro Herubowo

Photo :
  • tvOnenews/Abdul Gani Siregar
img_title Larangan Warga Israel Injakan Kaki di Malaysia Dikritik Kongres AS, Anwar Ibrahim Cuek

Menurutnya, lagu tersebut diputar terus menerus selama sekitar dua jam ketika para relawan berada dalam posisi telungkup di bawah panas matahari.

“Saya nggak tahu lagu apa, durasi lagunya itu kurang lebih satu menit, diputar ulang selama dua jam. Itu yang cukup menguras tenaga,” ujarnya.

Heru mengatakan perlakuan kasar tidak berhenti di situ. Setelah dijemur, para relawan kembali dipaksa telungkup untuk menunggu antrean pemeriksaan imigrasi selama berjam-jam.

“Dan setelah itu dibawa ke imigrasi juga kita harus telungkup untuk menunggu antrean selama dua jam,” ungkapnya.

“Jadi 4 sampai 5 jam lah kita telungkup terus di situ. Bangun sedikit, diteriakin sama mereka, ‘Head down! Head down!’ Waduh, pokoknya mereka itu ya cukup kasarlah bisa dibilang begitu,” sambung Heru.

Selain tekanan fisik, Heru juga menceritakan adanya dugaan penyiksaan lain selama proses penahanan. Ia menyebut petugas Israel membuat ruangan khusus yang diduga digunakan untuk melakukan kekerasan terhadap tahanan.

“Kalau penyiksaan terparahnya sih pada saat kami datang ya. Kami datang dibawa ke kapal, itu yang ruang eksekusi pertama. Dan terakhir sebelum ke imigrasi,” katanya.

“Jadi mereka itu membuat bilik-bilik di mana salah satu bagian bilik itu juga ya memang tempat buat kayaknya khusus untuk mengeksekusi kita gitu,” lanjutnya.

Selama perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain, para relawan disebut terus menerima perlakuan kasar mulai dari diborgol ketat hingga ditendang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut