Respons Dino Patti Djalal, Seskab Teddy: Setiap Masukan Diterima tapi Jangan Kaburkan Fakta Hasil yang Dicapai
- VoxPop/Rahmat Fatahillah Ilham
Dino juga menyarankan agar Seskab Teddy dan Menteri Luar Negeri Sugiono untuk mengumumkan rencana lawatan luar negeri Presiden sebulan sebelum keberangkatan atau minimal seminggu sebelum keberangkatan.
Seskab Teddy kemudian menjawab jadwal lawatan luar negeri Presiden itu terbagi atas jadwal tahunan dan jadwal yang mendesak mengikuti perkembangan dunia global yang dinamis.
"Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi, ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," kata Seskab Teddy.
Kedekatan Personal
Teddy kemudian mencontohkan jadwal tahunan itu seperti agenda KTT ASEAN, KTT G20, KTT APEC, KTT BRICS, dan Sidang Majelis Umum PBB.
Sementara itu, jadwal mendesak itu berkaitan dengan dinamika global, di antaranya seperti konflik di beberapa negara, krisis di Timur Tengah dan perkembangan situasi di Palestina.
Jawaban berikutnya yang diberikan oleh Seskab Teddy terkait kritik Dino yang menyoroti frekuensi atau banyaknya jumlah lawatan luar negeri Presiden Prabowo serta hal-hal terkait protokoler.
"Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat (Arab) Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya," katanya.
Jadi, lanjut dia, setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan dekat antarpemimpin dunia, dan tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru minta bantuan.
"Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujar Teddy. .
Teddy melanjutkan gaya diplomasi yang dijalankan oleh Presiden Prabowo ialah menggunakan "kedekatan personal".
"Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy. (Ant)
