Dua Calon Pengelola Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal saat Latihan Militer, Kemhan Buka Suara

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemenhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait
Sumber :
  • ANTARA/Walda Marison

Jakarta, VoxPop – Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) setelah dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan.

img_title Pemerintah Jamin Kopdes Merah Putih Tak Bakal Mematikan UMKM dan Warung Masyarakat

"Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan yang diterima ANTARA, di Jakarta, Selasa.

Menurut Rico, evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu diperbaiki guna meningkatkan keselamatan dan kualitas penyelenggaraan pendidikan latsarmil.

img_title Tegaskan Kopdes Merah Putih Bukan Supermarket, Menko Zulhas Beberkan Bedanya

"Kami akan mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan," ujarnya.

Ia menegaskan Kemhan terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik demi mewujudkan penyelenggaraan latsarmil yang lebih baik.

img_title Program MBG dan Kopdes Dinilai Manifesti Nyata Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945

"Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel," kata Rico.

Sebelumnya, dua peserta Program SPPI yang dipersiapkan menjadi pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia saat mengikuti latsarmil.

Kedua peserta tersebut bernama Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Rico menjelaskan Anisa Muyassaroh meninggal dunia akibat "heat stroke" saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.

Heat stroke (atau sengatan panas) adalah kondisi gawat darurat akibat paparan suhu panas ekstrem, di mana suhu inti tubuh melonjak drastis hingga mencapai atau melebihi 40 derajat Celsius dan sistem pengaturan suhu tubuh gagal berfungsi.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja.

Menurut Rico, Yonanda sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat 'cardiac arrest' atau henti jantung," katanya. (Ant)

VoxPop Militer: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin tinjau pelatihan Bela Negara SPPI

33.758 Calon Manajer Koperasi Merah Putih Rampung Diklat Bela Negara, Kemhan Resmi Tutup Gelombang Pertama

Kemhan secara resmi menutup diklat Bela Negara SPPI bagi 33.758 calon manajer Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih usai 1,5 bulan pelatihan.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut