Kisah Menegangkan Bung Karno Melukis di Sarang DI/TII
Minggu, 1 November 2015 - 08:20 WIB
Sumber :
- Dok. Ist
VoxPop.co.id
- Bung Karno bisa dikatakan sebagai Presiden yang bisa melukis. Dalam suatu kesempatan bergaul dengan kalangan seniman lukis, Bung Karno pernah mengatakan, kalau saja ia tidak menjadi Presiden, tentulah ia sudah memilih pelukis sebagai profesinya.
Tak bisa disangkal, lukisan-lukisan Bung Karno benar-benar apik, bercorak dekoratif dan lebih dari itu, berdaya magis bagi siapa saja yang melihatnya. Kegemaran melukis masih dilakoni setidaknya sampai tahun 50-an. Tak jarang, seperti kebanyakan pelukis pada umumnya, ia juga menyempatkan diri berburu lokasi, mencari objek yang bagus untuk dituang ke atas kanvas.
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, suatu ketika, di tahun 1950-an, Bung Karno mengajak pelukis Istana, Dullah untuk hunting lokasi ke tatar Priangan, Jawa Barat. Ia mencari objek yang pas di hatinya untuk dilukis, hingga tibalah di satu lokasi yang memang sangat indah. Bung Karno memerintahkan rombongan kecil berhenti.
"Keindahan pemandangan Indonesia memang luar biasa. Kalau aku melihat pohon-pohon menghijau, bila kupandang lembah dan ngarai, bila kudengar kicau burung, bila kurasa desir angin maka semakn besar rasa cintaku kepada Indonesia," ujarnya seraya turun dari mobil.
Ya, Bung Karno memilih lokasi itu. Ia pun menyiapkan kanvas, cat, kuas, dan sedia mulai melukis. Akan tetapi, para pengawalnya justru sangat gusar, resah, gundah. Betapa tidak, lokasi yang dipilih Bung Karno adalah kekuasaan pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwirjo.
Kartosuwirjo tak lain adalah sahabat Bung Karno, satu perguruan di Surabaya, sebagai sesama murid H.O.S. Cokroaminoto. Selain Kartosuwirjo, teman Bung Karno yang “mengguru” di Cokroaminoto antara lain Alimin dan Muso. Nah ini yang unik. Kartosuwirjo menjelma menjadi aliran kanan garis keras, sebaliknya Alimin dan Muso aliran kiri (komunis) yang tak kalah fanatiknya. Sementara Bung Karno ada di tengah, sebagai seorang nasionalis tulen, bahkan ultra-nasionalis.
Di kemudian hari, pasca kemerdekaan, Kartosuwirjo memberontak melawan pemerintahan Sukarno dengan membentuk laskar Islam bermarkas di Priangan. Sementara Alimin dan Muso terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Sejarah kemudian mencatat, kedua pemberontakan itu berhasil ditumpas.
Tak bisa disangkal, lukisan-lukisan Bung Karno benar-benar apik, bercorak dekoratif dan lebih dari itu, berdaya magis bagi siapa saja yang melihatnya. Kegemaran melukis masih dilakoni setidaknya sampai tahun 50-an. Tak jarang, seperti kebanyakan pelukis pada umumnya, ia juga menyempatkan diri berburu lokasi, mencari objek yang bagus untuk dituang ke atas kanvas.
Baca Juga
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan, suatu ketika, di tahun 1950-an, Bung Karno mengajak pelukis Istana, Dullah untuk hunting lokasi ke tatar Priangan, Jawa Barat. Ia mencari objek yang pas di hatinya untuk dilukis, hingga tibalah di satu lokasi yang memang sangat indah. Bung Karno memerintahkan rombongan kecil berhenti.
"Keindahan pemandangan Indonesia memang luar biasa. Kalau aku melihat pohon-pohon menghijau, bila kupandang lembah dan ngarai, bila kudengar kicau burung, bila kurasa desir angin maka semakn besar rasa cintaku kepada Indonesia," ujarnya seraya turun dari mobil.
Ya, Bung Karno memilih lokasi itu. Ia pun menyiapkan kanvas, cat, kuas, dan sedia mulai melukis. Akan tetapi, para pengawalnya justru sangat gusar, resah, gundah. Betapa tidak, lokasi yang dipilih Bung Karno adalah kekuasaan pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwirjo.
Kartosuwirjo tak lain adalah sahabat Bung Karno, satu perguruan di Surabaya, sebagai sesama murid H.O.S. Cokroaminoto. Selain Kartosuwirjo, teman Bung Karno yang “mengguru” di Cokroaminoto antara lain Alimin dan Muso. Nah ini yang unik. Kartosuwirjo menjelma menjadi aliran kanan garis keras, sebaliknya Alimin dan Muso aliran kiri (komunis) yang tak kalah fanatiknya. Sementara Bung Karno ada di tengah, sebagai seorang nasionalis tulen, bahkan ultra-nasionalis.
Di kemudian hari, pasca kemerdekaan, Kartosuwirjo memberontak melawan pemerintahan Sukarno dengan membentuk laskar Islam bermarkas di Priangan. Sementara Alimin dan Muso terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Sejarah kemudian mencatat, kedua pemberontakan itu berhasil ditumpas.
Halaman Selanjutnya
