Kisah Saksi Hidup Gemetar Kuburkan Korban Peristiwa 1965
- VoxPop co.id/ Dwi Royanto
Saat menguburkan 24 korban, Sukar ditemani oleh tiga teman kampungnya, yakni Muharmain, Sarwani dan Sarimin. Dari ketiga temannya yang masih hidup, hanya Sukar dan Muharmain yang kini sudah pikun.
"Sampai di hutan ada tiga lubang, tapi yang diisi mayat hanya dua lubang. Darah bercecer di sekitar lubang itu. Tapi tiga teman saya enggak kuat melihat dan memutuskan pulang. Tinggal saya sendiri, " ujar Sukar.
Mau tidak mau, Sukar pun menutup lubang ke 24 mayat yang bergelimpangan itu sendirian. Mesti harus melawan rasa takut, Sukar menguruk satu persatu liang itu dengan tubuh gemetar. Ia pun menandai dua liang itu dengan pohon Jarak.
![]()
Kuburan massal korban tragedi 1965 di hutan Plumbon, Semarang
Sejak saat itu, Sukar bahkan masih rutin membersihkan lokasi kuburan massal itu agar terawat. Beberapa kali, Sukar bahkan mendapati ada keluarga korban berziarah ke lokasi secara sembunyi-sembunyi.
Barulah pada 2015, kuburan massal di hutan Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, ini secara resmi dinisankan oleh para aktivis HAM Semarang. Dari 24 korban yang ada, nisan itu baru ditulis 8 nama. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dan pengakuan keluarga korban.
Kedelapan korban yang diketahui identitasnya itu adalah Mutiah (dulunya guru TK), Soesatjo (dulunya pejabat teras Kendal), Sachroni, Darsono, Yusuf (carik), Kandar (carik), Dulkhamid, dan Surono. Mereka merupakan warga Kabupaten Kendal yang sebelumnya ditahan di tawanan Kawedanan, Kaliwungu, Kendal.
