Polemik Kewarganegaraan dan Bonus Hari Tua Atlet Bulutangkis

Podium juara sektor ganda campuran bulutangkis Olimpiade Rio 2016
Sumber :
  • badmintonindonesia.org

VoxPop.co.id – Polemik mengenai status dwi kewarganegaraan, belakangan ramai diperbincangkan setelah mencuat masalah paspor ganda Arcandra Tahar dan Gloria Natapradja Hamel. Namun jauh sebelum itu, rupanya juga sempat mewarnai dunia olahraga tanah air. 

img_title Media Vietnam Sindir Timnas Indonesia usai Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026: Tersingkir dengan Cara Memalukan

Cabang bulutangkis yang notabene menjadi andalan Indonesia dalam berbagai perhelatan, ternyata juga tak lepas dari masalah status kewarganegaraan.

Berlimpahnya bakat potensial dari atlet bulutangkis di Indonesia, rupanya juga membuka peluang mereka untuk memilih peruntungan di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, terutama buat atlet yang gagal bersaing masuk skuat pemusatan pelatihan nasional di bawah Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia.

img_title Timnas Indonesia Gagal Total di Piala AFF 2026, John Herdman Bakal Dipecat? Ini Kata Erick Thohir

Banyak nama pemain muda berbakat akhirnya memilih pindah dan membela negara lain untuk meniti karir sebagai atlet bulutangkis. Mereka adalah Hendri Kurniawan, Wandry Kurniawan, Hendra Wijaya dan Shinta Mulia Sari. Keempatnya merupakan kakak beradik anak pasangan Sugeng Subagio dan Sri Sariyani. Mereka memutuskan hijrah ke Singapura dan menjadi tim bulutangkis nasional di sana.

Hendri dan Wandry merupakan kembar yang lahir di Semarang 12 Mei 1981. Mereka memilih ke Singapura untuk mencari kesejahteraan lebih baik. 

img_title Imbangi Garuda, Media Singapura Heran Ranking FIFA Timnas Indonesia Padahal Jauh di Atas The Lions

Langkah mereka diikuti kedua adiknya, yaitu Hendra dan Sinta Mulya Sari. Setelah menggeluti bulutangkis di Singapura, Wandry pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk membela tanah airnya. 

Selain mereka, di Singapura juga ada Danny Bawa Chrisnanta. Pria kelahiran Salatiga ini, mulai membela Singapura pada 2013 lalu, dan berhasil mendapatkan sejumlah gelar.

Sebelum Danny, ada nama Taufik Hidayat Akbar. Dia pindah ke Milan untuk menyatakan sumpah setia pada Italia, dan meninggalkan Indonesia pada Agustus 2009. 

Nama Halim Haryanto pun juga sempat mengemuka dengan keputusannya meninggalkan pelatnas PBSI dan memilih bergabung dengan tim nasional Amerika Serikat pada tahun 2004 sebagai pelatih serta berganti kewarganegaraan. Sebelumnya, saat membela panji Merah Putih, Halim sempat menjuarai All England dan Kejuaraan Dunia pada tahun 2001 bersama Tony Gunawan.

Tony pun akhirnya memilih mengikuti jejak Halim dengan pindah ke Amerika Serikat.

Namun, setelah dikeluarkannya program jaminan hari tua atau uang pensiun dari Kementerian Pemuda dan Olahraga bagi semua atlet dan mantan atlet berprestasi di ajang Olimpiade. Status mereka pun menuai masalah baru.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut