Polemik Kewarganegaraan dan Bonus Hari Tua Atlet Bulutangkis
- badmintonindonesia.org
Dalam program dana pensiun itu, peraih medali emas akan mendapatkan Rp20 juta per bulan, perak Rp15 juta per bulan, dan perunggu Rp10 juta per bulan. Dana ini sudah berjalan secara simbolis awal Juni lalu.
Sebagai mantan atlet, meski kini tidak berstatus sebagai warga negara Indonesia, sebagian dari mereka pernah mengukir sejarah dan mengharumkan nama bangsa. Setidaknya ada 3 nama peraih medali dari cabang bulutangkis, yang kini sudah menjadi warga asing.
Mereka antara lain Ardy B. Wiranata, peraih medali perak tunggal putra Olimpiade Barcelona 1992, Mia Audina peraih medali perak tunggal putri Olimpiade Atlanta 1996, dan Tony Gunawan, peraih medali emas ganda putra Olimpiade Sydney 2000.
Kontroversi ini semakin tegas, tatkala Mia Audina pada 2 Agustus 2016 lalu sengaja menemui Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, untuk menanyakan mengenai penghargaan jaminan hari tua itu. Mia berharap kebijakan itu juga berlaku buatnya, meskipun statusnya sudah bukan lagi sebagai WNI, setelah dia menjadi warga negara Belanda sejak 1999.
“Saya harapkan kebijakan dari Pak Menteri untuk bisa memberikan penghargaan dan tunjangan itu pada saya,” ujar Mia.
Pebulutangkis Olimpian Indonesia lainnya, Candra Wijaya, coba menjelaskan masalah ini. "Sepengetahuan saya WNA sudah tidak bisa, keputusannya sudah jelas," tutur pasangan Tony Gunawan dalam merebut emas Olimpiade Sydney.
"Tony sudah tahu hal tersebut, dan rasanya dia tidak mempermasalahkannya karena memang dia sudah tidak seorang WNI. Dan setahu saya, Ardy (Wiranata) sedang dalam proses untuk pindah (kewarganegaraan menjadi Amerika Serikat)," jelas Candra yang dihubungi VoxPop.co.id, Selasa, 16 Agustus 2016.
Hal senada juga dilontarkan legenda bulutangkis lainnya, Alan Budikusuma. Menurut Alan, situasi ini harus menjadi pelajaran bagi setiap atlet, agar bisa memiliki komitmen kuat, bahwa rasa kecintaan kepada tanah air mutlak menjadi karakter bagi olahragawan.
"Nantinya ini akan jadi pembelajaran, bahwa setiap atlet harus memikirkan konsekuensinya sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan," jelas peraih medali emas tunggal putra di Olimpiade Barcelona 1992.
Alan juga menceritakan tentang adanya tawaran berpindah menjadi warga negara lain, buat dirinya dan sang istri, Susy Susanti, pasca mereka meraih emas olimpiade.
