Desa Tumaluntung, Memanen Berkah dari Kotoran Babi
- VoxPop.co.id/Hari Agustinus
Biogas biasanya dikenal sebagai gas rawa atau lumpur. Gas campuran ini didapat dari proses perombakan kotoran ternak menjadi bahan organik oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob).
"Penggunaan dari energi biogas sebagai bahan bakar berdampak positif karena mengurangi pencemaran lingkungan. Ini dapat dimanfaatkan masyarakat di tengah kelangkaan energi dan harga minyak bumi yang melambung pada masa kini,” katanya.
Pertanian Hijau
Di bagian lain, konsep energi alternatif biogas di Desa Tumaluntung itu rupanya juga menularkan pada pola pertanian hijau bagi warga setempat.
Lewat Kelompok Karioka, kini juga dikenalkan pola pertanian organik bagi warga. Dari pantauan, terlihat ada lokasi persemaian bibit organik dan pembuatan kompos.
![]()
FOTO: Persemaian bibit pertanian organik di Desa Tumaluntung Kabupaten Minahasa Utara, Kamis (1/12/2016)/Hari Agustinus
Di halaman kecil yang dulunya jadi lokasi pembuangan sampah, kini justru ditemukan beragam produk pertanian organik, seperti sayur pakcoy, seledri, kacang-kacangan, cabai, tomat, bawang, pisang, umbi-umbian dan lainnya.
Charles Karamoy mengaku, hasil pertanian biasanya dijual kembali dan keuntungannya dibagi kepada anggota kelompok. Namun terkadang, produk yang ditanam, dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk keperluan pribadi.
"Kendala yang ada sekarang, bantuan modal pertanian dari pemerintah biasanya dipotong terlalu besar dan kami tidak tahu alasannya. Misalnya bantuan sebesar Rp20 juta, yang kami terima tinggal Rp11 juta. Ini sangat kami sayangkan," ujarnya.
(ren)
