Gempa Pidie Jaya, Kemensos Fokus di 4 Titik Pengungsian

PENGUNGSI KORBAN GEMPA PIDIE JAYA
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Muhamad Solihin

VoxPop.co.id – Tim Layanan Dukungan Psikososial Kementerian Sosial telah melakukan Rapid Assessment, atau Kaji Cepat korban gempa Aceh di lokasi pengungsian Kabupaten Pidie Jaya, yakni Meunasah Jurong, Meunasah Balek, Meuraksa Barat, dan Paru Keude.

img_title Gempa Magnitudo 2,8 Guncang Bener Meriah Aceh Pagi Ini, BMKG Ungkap Penyebabnya

"Untuk sementara ini tim berfokus di empat titik pengungsian yang jumlahnya cukup besar. Assessment utamanya dilakukan pada kelompok rentan, yakni lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak anak. Serta, warga yang ditinggalkan anggota keluarganya (meninggal)," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, lewat rilis yang diterima.

Dikatakan, hasil kaji cepat ini nantinya akan menjadi dasar pemberian layanan kepada pengungsi, terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Berdasarkan data ini, tim juga akan menentukan intervensi, atau aktivitas lanjutan untuk mengurangi dampak negatif dari gempa.

img_title Aceh Diguncang 11 Gempa Sehari, BMKG Ungkap Pemicu hingga Status Gunung Bur Ni Telong Naik Siaga

"Rapid Assessment biasanya dilakukan dalam rentang waktu hari pertama sampai hari ke-4 kejadian bencana. Ini sebagai data awal yang menjadi dasar untuk menyusun program layanan dukungan psikososial selanjutnya," tambah Mensos

Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos, Milly Mildawati mengungkapkan, hasil kaji cepat pada pengungsi yang kehilangan anggota keluarganya menunjukkan bahwa mereka masih sangat berduka. Mereka juga ketakutan berada di dalam ruangan dan lebih memilih berada di luar rumah, beraktivitas, dan tidur di tenda-tenda.

img_title 10 Gempa Terdahsyat di Bumi, Ada Indonesia

"Kondisi ini, agak berbeda dengan warga yang tinggal di pesisir pantai. Ketakutan mereka berbeda, dua kali lipatnya. Mereka takut berada di dalam ruangan dan takut tsunami, karena rumah mereka berada di bibir pantai," ujar Milly, yang juga merupakan Kepala Pusat Kajian Bencana dan Pengungsi Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung.

Milly mengungkapkan bahwa tim dukungan psikososial mendapati anak-anak yang masih mengalami rasa takut, terlebih saat terjadi gempa susulan. Mereka umumnya menunjukkan reaksi tubuh gemetar hebat, panik, saling berpelukan dan menjerit.

"Untuk hasil assessment pada penyandang disabilitas, diketahui jumlahnya lebih sedikit, jika dibandingkan kelompok rentan lainnya, meski mereka tetap kami utamakan. Misalnya ada yang mengalami gangguan berjalan, kami gali kebutuhannya, dan mereka memerlukan alat bantu berjalan (tongkat), atau kursi roda," kata Milly.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut