Makassar, Kota Beribu-ribu Lorong
Untuk menampung hasil produksi warga lorong, pemkot membuat Badan Usaha Lorong yang diharapkan bisa menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, mempersempit gini rasio, peningkatan jumlah RTH, dan bebas pengangguran. Warga sebagai penggerak utama badan usaha ini akan meraup keuntungan ekonomi dari setiap kilo gram cabai yang terjual. Pemkot Makassar akan membeli cabai yang dihasilkan Badan Usaha Lorong.
Hasil badan usaha ini nantinya akan dialokasikan untuk kepentingan warga lorong, misalnya deposito pendidikan bagi anak-anak lorong, dan sisanya digunakan untuk menghidupi UMKM. Dari sekitar 7.500 lorong di kota ini, pemkot menargetkan 600 lorong ikut dalam program lorong garden.
Salah satu lorong garden yang dijadikan percontohan berada di Lorong Setapak 3, Kelurahan Bonto Makio, Kecamatan Rapocini, Kota Makassar. Camat setempat, Hamri Haiya, menuturkan, sebelum dibangun bank sampah dan lorong garden, warga kerap ribut dengan warga lorong lain yang membuang sampah di wilayah mereka. Namun pertikaian kini sudah berkurang.
Karenanya, upaya yang kini dilakukan adalah menjaga keberlangsungan usaha warga, sehingga warga memiliki kesibukan yang menghasilkan secara ekonomi. Untuk itu ia menggandeng perguruan tinggi setempat, yakni Unismu, untuk membantu penguluhan yang dikemas dalam program KKN.
Sementara terkait keamanan lingkungan, akan diterapkan smart lorong yang kini tengah dijajaki kerjasama dengan PT Telkom untuk pemasangan empat CCTV di setiap mulut lorong.
