Putri Amien Rais Bela Ayahnya soal Terima Uang Korupsi
- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
VoxPop.co.id - Hanum Salsabiela Rais, putri Amien Rais, membela sang ayah soal tuduhan menerima uang korupsi proyek pengadaan alat kesehatan dengan terdakwa Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan.
Hanum menuliskan semacam kesaksian tentang integritas ayahnya. Dia tak membantah atau justru membenarkan penyebutan nama ayahnya dalam sidang Siti Fadilah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 31 Mei 2017 itu.
Hanum, melalui tulisan sepanjang 891 kata itu, menceritakan satu momen kecil yang dia yakini sebagai cikal-bakal penyebutan nama Amien Rais dalam sidang perkara korupsi.
VoxPop.co.id awalnya menerima pesan melalui aplikasi percakapan WhatsApp yang berisi tulisan atas nama Hanum Rais sebagai penulis dan diberi judul Perisai Lahir Batin Amien Rais. Dihubungi melalui kontak WhatsApp, suami Hanum, Rangga Almahendra, membenarkan bahwa tulisan itu benar dibuat istrinya.
Rangga menolak memberikan kesempatan VoxPop.co.id untuk mewawancarai Hanum. "Mohon maaf utk sementara Hanum belum bersedia diwawancara. Mudah-mudahan semua pesan Hanum sudah jelas. Klarifikasi selanjutnya menunggu Senin," katanya.
Berikut ini tulisan lengkap Hanum Salsabiela Rais (dengan beberapa singkatan) yang mulanya diunggah di Instagram-nya, @hanumrais:
Saya sebenernya telah beresolusi akan mengurangi sosmed di bulan puasa ini (post terakhir tgl 21mei). Namun tuduhan yg dialamatkan pd Bapak akhir2 ini membuat banyak pesan pd saya, lewat WA, DM dll agar saya sebagai putrinya jg memberikan semacam klarifikasi.
Saya tdk akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tsb, karna insyaAllah Bapak scara perwira akan menggelar konpers di kediaman JKT hari ini sebelum sholjum. Silahkan wartawan datang dan melansir jawaban beliau.
Saya hanya ingin berbagi bagaimana seorang Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan. Mudah mudahan menjadi hikmah di bulan suci ini.
Terkembali kepada Anda yang menilai.
Di awal April 2017 lalu, Seorang Mantan jenderal yg duduk di posisi pemerintahan ckp strategis menemui Bapak. Ia mengatakan bahwa ia dikirim boss nya yg ingin bertemu Bapak. Ia ditugasi membuat titik temu dan tempat. Bapak mengatakan "Monggo dgn senang hati, semua orang dari kalangan mana pun saya temui, apalagi orang terhormat spt bapak bos". Namun sang mantan jendral mengatakan boss ingin bertemu di tempat rahasia, tdk tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Bapak tercenung. Ini sesuatu yang aneh. Mengapa harus rahasia?
