Kisah Juru Kunci Makam Permaisuri Hamengkubowono V di Manado

Makam permaisuri dan putra mahkota Sri Sultan Hamengkubowono V di Manado, Sulawesi Utara.
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Agustinus Hari

Kompleks permukiman Pondol Keraton dan Pondok Raden Mas sempat hancur ketika pasukan Sekutu memborbardir markas pertahanan Jepang di Manado.

img_title Sejarawan Kritik Rencana Prabowo Pindahkan Makam Pangeran Diponegoro: Merusak Sejarah

Bekas perang yang tersisa adalah bom yang kini tertimbun proyek reklamasi. Sementara, di kompleks permukiman Pondol Keraton dan Pondok Raden Mas tersisa sejumlah rumah tua peninggalan keluarga bangsawan.

Mohammad mengatakan, keturunan Putra Mahkota Kesultanan Yogyakarta itu kemudian mendiami kawasan kampung Pondol. "Tetapi kemudian dari mereka ada yang kembali ke Jawa."

img_title Prabowo Minta Izin Rakyat Sulsel Pindahkan Makam Pangeran Diponegoro

Saat Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga dibuang ke Manado, turut serta sejumlah pengawal dan keluarga dekat mereka.

"Putra Mahkota meninggal terlebih dahulu di tahun 1901, sementara permaisuri Kanjeng Ratu Sekar Kedaton menyusul di tahun 1918," ujarnya.

img_title Kepercayaan Jawa Anies Jadi Pemimpin Usai Terima Tongkat Pangeran Diponegoro, Jubir: Kita Amini

Kompleks tempat tinggal permaisuri dan putranya terletak di Kelurahan Mahakeret Barat, Kecamatan Wenang, berjarak sekitar 400 meter dari rumah Mohammad. Ia sudah menjadi juru kunci yang merawat kompleks pekuburan itu selama 20 tahun.

Rotinsulu, warga di Lorong Pondol, ikut membenarkan kompleks mereka tempat tinggal permaisuri dan putranya. "Dari cerita orangtua kami, memang benar. Pak Haji Mohammad itu penjaga kubur. Dia tahu semua soal kisah permaisuri dan anaknya," katanya.

Mohammad juga mengisahkan, dalam kurun waktu itu ada banyak keluarga keturunan putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Ngalaga yang datang berziarah.

"Mereka juga memberikan bantuan untuk perawatan kompleks pemakaman. Banyak dari mereka yang sukses bekerja di Jawa," ujarnya.

Awalnya kompleks pemakaman itu terbagi menjadi tiga, yakni untuk etnis Borgo (blasteran Minahasa, Belanda, Spanyol), Cina, dan Jawa. Kemudian, pekuburan Cina dibongkar dan dibangun Persekolahan Kristen di bagian tengah.

"Kompleks Pemakaman Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga tetap dibiarkan berdiri karena dianggap merupakan keturunan Keraton," kata Mohammad.

Sejak beberapa tahun terakhir, Mohammad tidak lagi memegang kunci kompleks pemakaman. Kunci itu sudah diserahkan ke salah satu mantan abdi dalem Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, yakni Sukardi Soepredjo.

Sukardi adalah ayah mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Yastie Soepredjo, yang kini menjabat Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut