Sepekan di Rakhine, Pembantaian Etnis Rohingya Bukan Hoaks
- VoxPop.co.id/Dhana Kencana
Kabar palsu merebak
![]()
FOTO: Pengungsi etnis Rohingya dari Rakhine Myanmar melarikan diri ke Bangladesh. Butuh 12 hari perjalanan agar mereka bisa tiba di Bangladesh/SOS ACT
Kesaksian lain yang juga mengejutkan Suriadi, adalah merebaknya kabar palsu yang terkesan diorganisir di wilayah Rakhine.
Ini ditemukan Suriadi dalam sejumlah laporan di media lokal, yang menjadi sumber awal informasi mereka di lapangan. Ternyata begitu berbeda dengan yang ada di lokasi.
"Di media dilaporkan, orang-orang Rohingya ini membakar rumah mereka sendiri. Namun ini sangat tidak mungkin," ujar Suriadi.
Tak cuma itu, salah satu yang cukup mengejutkan adalah tidak adanya kepedulian warga lain yang berada di Myanmar. Ini didapatinya ketika ia iseng menanyakan langsung kepada warga yang ditemuinya saat tiba di Yangon Myanmar tentang bagaimana kondisi di Rakhine.
"Ditanya, mereka menjawab tahu (kondisi Rakhine). Tapi gimana ya, senyap aja gitu," ujar Suriadi.
Bahkan, kata Suriadi, dalih militer Myanmar yang mengaku sedang memburu teroris yang disebutnya dari kelompok The Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), juga tak sepenuhnya bisa dipercaya.
Sebabnya, dalam kenyataannya di Rakhine, militer setempat hanya ingin membersihkan wilayah Rakhine dari para penduduk yang didominasi etnis Rohingya.
"Bayangkan saja, orang mempertahankan rumahnya malah disebut teroris. Ini nyata. Pembantaian dan pembunuhan itu bukan hoaks," ujar Suriadi.
Kini Suriadi mengaku begitu sedih mengingat yang dialaminya meski cuma sepekan di jantung kekerasan etnis Rohingya.
Meski mengaku tak trauma, namun baginya pengalaman ini menjadi sebuah kisah kelam yang benar-benar membekas. "Insya Allah, dengan Bismillah, saya terima dengan segala konsekuensinya," ujar Suriadi.
