Tak Ada Masjid dan Azan Berkumandang di 'Neraka' Rakhine
- VoxPop.co.id/Dhana Kencana
Kesaksian Suriadi yang lain di 'neraka' Sittwe, adalah soal kamp pengungsian. Ia mencatat setidaknya di daerah itu terdapat 12 kamp pengungsi.
Kamp itu didirikan oleh pemerintah setempat dan lembaga internasional. Mereka menampung siapa pun yang mengungsi, dari etnis mana pun dan agama apa pun.
Namun demikian, kamp pengungsian itu terkesan aneh di mata Suriadi. Ia menemukan ada perbedaan mencolok antara kamp yang dihuni oleh etnis muslim Rohingya dan kelompok warga non-muslim.
"Di kamp itu ada pengungsi Budhis Hindu dan muslim Rohingya. Tapi perlakuannya berbeda," ujar Suriadi.
Untuk kamp pengungsi yang diisi oleh umat Buddha yang diperkirakan berjumlah 900 orang dan Hindu sebanyak 500 orang. Seluruhnya terlihat baik.
Para pengungsi juga terlihat santai dan menjalankan aktivitas harian mereka seperti biasa. "Mereka bisa bekerja, berjualan, dan lain-lain. Pengamanan juga tidak ketat," ujar Suriadi.
Karena itu, untuk meninjau kamp pengungsi milik umat Buddha atau Hindu, siapa pun orang bisa dengan mudahnya masuk dan mengamati.
Namun, kondisi berbeda justru dialami oleh para pengungsi dari etnis Rohingya. Kamp ini, bagi Suriadi, terlihat memprihatinkan.
Kesedihan dan kesemrawutan langsung terpancar dari mereka yang mengungsi. Bahkan, untuk para pengunjung yang hendak menjenguk ke kamp pengungsi khusus Rohingya, aksesnya begitu sulit.
"Pengamanannya berlapis-lapis dan sulit. Ada penjagaan ketat. Kita tidak akan bisa masuk leluasa," ujar Suriadi.
Dan yang lebih memprihatinkan lagi, di kamp pengungsi muslim itu, mereka dilarang untuk membuat rumah ibadah. "Tidak ada masjid dan tidak akan ada suara azan di sini," ujar Suriadi. (ase)
