Tonduk, Pulau yang Dihuni Kaum Hawa dan Para Pria Lumpuh
- VoxPop.co.id/Veros Afif
VoxPop – Pulau Tonduk, demikian nama salah satu pulau yang ada di Kepulauan Kangean Kabupaten Sumenep, Madura. Daratannya hanya memiliki panjang tujuh kilometer dan lebar sekitar dua kilometer.
Perjalanan menuju pulau ini juga tak lama dari Sumenep, hanya 30 menit menggunakan perahu kecil. Tonduk memiliki nama lain. Di kalangan warga setempat, ia lebih dikenal sebagai Pulau Putri.
Penyebabnya, dari 3.000 jiwa penduduk di pulau ini, mayoritas memang perempuan. Mereka bekerja sebagai nelayan pencari rumput laut atau teripang.
![]()
FOTO: Aktivitas para perempuan Pulau Tonduk Madura mencari rumput laut
Lalu kemana kaum pria di pulau ini?
Di Pulau Tonduk, ada kebiasaan para kaum prianya untuk merantau. Biasanya mereka pergi berbulan-bulan ke laut untuk mencari teripang atau hasil laut lainnya. Karena itu maklum jika musim melaut sangat sulit menemukan lelaki di pulau ini.
Meski begitu, di balik keelokan nama ‘pulau hawa’ ini. Ada sisi buruk lain yang muncul dari kegigihan kaum prianya pergi melaut untuk mencari nafkah.
Alami Kelumpuhan
![]()
FOTO: Zulkifli, nelayan Pulau Tonduk Madura yang mengalami kelumpuhan permanen.
Sisi buruk itu adalah banyaknya kaum pria di Pulau Tonduk mengalami cacat fisik. Kelumpuhan bak sudah menjadi bagian dari lelaki di pulau hawa ini.
Para pria yang tersisa di Pulau Tonduk hanyalah mereka yang mengalami kelumpuhan berat atau sudah tidak bisa lagi menyelam. "Saya sudah tidak bisa lagi menyelam. Sekarang cuma menjaring. Istri saya yang mencari nafkah," kata Zainuri, seorang nelayan di Pulau Tonduk, Rabu, 18 Oktober 2017.
Bertahun-tahun Zainuri memang lihai menyelam. Ia mampu masuk ke laut dalam puluhan meter hanya berbekal alat pernafasan seadanya.
Namun demikian, risiko keselamatan yang diabaikannya itulah yang kini menjadi nestapa. Sebagian tubuh Zainuri kini mengalami kelumpuhan. "Mau berobat tidak ada duit. Jadi mau tak mau tetap menjaring untuk membantu nafkah," kata bapak dua anak ini.
Hawiyah, istri dari Zainuri, kini yang menjadi tulang punggung pengganti suaminya yang telah lumpuh. Tak cuma itu, ia juga harus merawat sang suami, termasuk menggendongnya untuk dibawa ke perahu agar bisa menjaring. "Hasil tangkapannya (ikan) dikit, tidak cukup untuk makan," ujar Hawiyah.
