Kuliah Umum di Rusia, Megawati Paparkan "Model Penjajahan Gaya Baru"
- ANTARA
Jakarta, VoxPop - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menyatakan sudah saatnya negara-negara mencari terobosan dalam kerja sama internasional, apalagi dengan berbagai persoalan geopolitik dan pemanasan global (global warming) di dunia saat ini.
Megawati menyampaikan hal itu dengan melihat berbagai permasalahan dunia seperti konflik Rusia dan Ukraina, Israel dengan Palestina, Selat Taiwan, semenanjung Korea, hingga masalah pemanasan global.
"Dengan berbagai persoalan geopolitik dan global warming di atas, sudah saatnya kita mencari terobosan dalam kerja sama internasional," kata Megawati dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 17 September 2024.
VoxPop Militer: Pasukan Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU)
- politico.eu
Megawati mengkhawatirkan terjadi krisis pangan akibat global warming serta dampak ekologisnya yang begitu besar bagi umat manusia.
Ketua Dewan Pengarah BRIN ini juga menyampaikan rasa keprihatinan terhadap sistem internasional makin bergeser pada perang hegemoni dan melupakan pentingnya solidaritas sosial dan kemanusiaan.
"Saya juga makin khawatir dengan munculnya model penjajahan gaya baru melalui penggunaan kekuatan ekonomi, pangan, dan keunggulan teknologi, serta hukum internasional sebagai 'alat pembangun hegemoni'," jelas Megawati.
Megawati pun menegaskan bahwa Pancasila bisa menjadi gateline dan lifeline tata dunia baru tersebut.
Ilustrasi pemanasan global.
- Independent
"Kesetaraan, keadilan, dan kemakmuran bersama serta keselamatan bumi harus menjadi kredo kita. Tatanan dunia baru harus diwujudkan dengan menggandeng erat seluruh kekuatan internasional," ucapnya.
Oleh karena itu, Megawati mengajak saling bergandengan tangan dalam persaudaraan sejagat dengan kedepankan dialog dengan bingkai kemanusiaan.
"Kita adalah warga bangsa yang setara dan memiliki tanggung jawab di dalam menjaga kelangsungan dunia, seperti yang saya sampaikan tadi hanya ada satu bumi dengan seluruh peradabannya," katanya.
Megawati juga sempat menjelaskan bagaimana pembumian Pancasila dalam sistem internasional melalui pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955 yang menghasilkan "Dasasila Bandung".
KAA menjadi gerakan solidaritas bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk merdeka.
Dengan spirit Dasasila Bandung itulah Indonesia mengambil inisiatif menyelesaikan konflik di Pakistan ketika berhadapan dengan Inggris, mendukung nasionalisasi Terusan Suez di Mesir, hingga mendorong kemerdekaan Maroko, Tunisia, dan Aldjazair.
