Ibas Yudhoyono Bicara Potensi AI Bantu Anak Muda Capai Generasi Emas 2045
- Istimewa
“Kemudian masih adanya risiko terkait dengan privasi dan keamanan data siswa. Kita baru juga mendengar adanya leak of information (kebocoran informasi), data-data yang terpublikasi,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Ibas berharap penggunaan AI dalam pendidikan yang berkelanjutan dapat terintegrasi dengan pendekatan berbasis karakter dan kebangsaan. “Sekali lagi, kalau kita serap teknologinya 100 % tidak diimbangi dengan karakter kultur (budaya) bangsa kita, akan masuk pada arus budaya asing yang terlalu berlebihan,” tegasnya.
Menurut Ibas, beberapa cara lainnya adalah menjaga keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai Pancasila tetap terjaga.
"Bagaimana kita juga bisa melibatkan semua pemangku kepentingan dalam hal ini. Kita harus duduk bersama dengan pemerintah, dengan para guru, orang tua, masyarakat, generasi muda sebagai pemangku hajat ke depan,” imbuhnya.
Menyikapi permasalahan dan tantangan tersebut, Ibas menyampaikan beberapa rekomendasi strategis yang dapat diterapkan. Bagi pemerintah, Ibas menilai pemerintah perlu mengembangkan kebijakan nasional untuk integrasi AI dalam pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai empat pilar kebangsaan didukung infrastruktur digital yang merata demi keutuhan NKRI.
“Kita tidak ingin terjadi yang sebaliknya, AI dapat memecah belah, malah membuat teraduk-aduk.”
Bagi sekolah dan guru, Ibas berharap adanya peningkatan literasi digital guru berdasarkan nilai Bhinneka Tunggal Ika.
“Tidak hanya kepada anak didik, tapi juga pada guru-guru yang berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika. AI itu bisa banyak produknya. Bisa robotik, bisa yang berhubungan dengan software (perangkat lunak) dan teknologi,”
Sementara untuk generasi muda, perlunya mendorong mereka untuk melakukan innovasi berbasis AI, dengan keterampilan teknologi, dalam kerangka Pancasila dan karakter bangsa.
“Sebagai contoh di Finlandia, negara yang selalu menjadi benchmark (tolak ukur) pendidikan dunia. Menggunakan AI itu untuk personalisasi pembelajaran. Seperti smart learning environment (SLE), dibuat semacam lingkungan yang pintar, lingkungan yang cerdas agar ada akselerasi edukasi di sana,” terang Ibas.
Ibas melihat fenomena AI dalam pendidikan adalah perubahan zaman yang tidak bisa ditahan. Mau tidak mau, bangsa Indonesia akan terus mendapatkan cobaan dan ujian dari arus dunia yang boleh dikatakan borderless (tanpa batas). Oleh karena itu, ia berpesan agar masyarakat perlu fokus pada keterampilan manusia dan keahlian berfikir yang sistematik, agar manusia Indonesia tetap relevan di era AI.
