Perombakan BUMN Jadi Sorotan, Tak Boleh Melenceng Kerjakan Bisnis Lain
- ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Lanjut Tanri, semangat Erick Thohir untuk menciptakan value creation atau penciptaan nilai masih sama dengan kebijakannya yang ia buat pada kementerian BUMN pada tahun 1998.
“Semangatnya masih di situ dimana saya melihat transisi yang saya kembangkan pada waktu itu 22 tahun yang lalu, untuk pemberdayaan BUMN, karena waktu kita mulai kan dari 159 BUMN itu tidak sehat, jadi harus ada restrukturisasi, nah konsep saya waktu itu adalah restrukturisasi menuju profitisasi setelah profitisasi baru privatisasi.”
Ia pun mendukung kebijakan Erick Thohir dalam dua hal, yaitu pertama BUMN yang menjadi problem atau yang tidak produktif memberikan kontribusi keuntungan dijual saja agar tidak menjadi beban.
“Misalnya dulu itu ada pabrik PT Iglas yang bergerak pembuatan kemasan gelas, ngapain BUMN ngurusin begitu, jual saja kepada karyawan atau siapa,” kata Tanri.
Kedua, yang paling penting menurut Tanri adalah bahwa BUMN dapat kembali kepada core atau inti bisnisnya saja, jangan melenceng mengerjakan bisnis yang lain.
“Hampir semua BUMN besar itu punya universitas, lalu dia juga punya hospiltal. Padahal hotel di holding saja di dalam klaster pariwisata misalnya. Jadi persis yang ingin saya lakukan pada waktu saya membentuk kementerian core stay, jadi itu benar semua,” tutup Tanri.
