Kaleidoskop 2023: TikTok Shop Jadi Kambing Hitam Sepinya Pasar Tanah Abang
- VoxPop
Sehingga, tak salah apabila ada anggapan yang menyebut bahwa minat beli masyarakat telah beralih ke e-commerce, dibandingkan dengan berbelanja langsung ke pasar tradisional seperti misalnya Pasar Tanah Abang tersebut.
2. Harga Tanah Abang Kalah Saing
Kondisi saat Pasar Tanah Abang sepi
- Tiktok
Semakin sepinya Pasar Tanah Abang belakangan ini antara lain juga disebabkan adanya persaingan antara platform jual-beli online, dengan perdagangan offline yang telah membudaya selama ini.
Hal itu diakui oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, yang mengatakan bahwa kondisi Pasar Tanah Abang saat ini harus dilihat dari kondisi pasar grosir dan karakteristik yang meliputinya.
Dia menyebut, Pasar Tanah Abang yang identik sebagai pusat grosir skala nasional, memiliki segmen konsumen yang merupakan para pedagang dari Aceh hingga Papua. Barang yang mereka beli pun akan kembali di jual di daerahnya masing-masing, bahkan hingga ke level internasional.
Karena itu, pertimbangan harga grosir termurah yang bisa didapatkan para pedagang tersebut, tentunya juga sangat bersaing ketat. Karena mereka pastinya juga akan mencari barang yang murah dengan kualitas bagus.
"Sekarang dengan online, semua bisa ditembus. Artinya, pembeli dari Aceh-Papua tak perlu lagi ke Tanah Abang. Duduk di rumah, masing-masing menawarkan produknya dari seluruh dunia dari rumah. Karena begitu terbukanya dengan online tadi," kata Alphonzus.
3. Regulasi Timpang
Salah satu faktor yang dinilai juga menjadi penyebab dari semakin sepinya pasar-pasar tradisional seperti Pasar Tanah Abang, adalah karena regulasi yang belum jelas dari pemerintah. Sehingga, dampaknya sangat terasa bagi daya saing pasar tradisional, yang keok dibandingkan dengan platform jual-beli online.
Hal itu juga diamini oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja. Dia menyebut bahwa ketidakjelasan regulasi dari pemerintah dalam mengatur kebijakan perdagangan online, menjadi salah satu penyebab pedagang offline seperti di Tanah Abang kalah saing.
Dia menjelaskan, apabila saat ini para pedagang offline masih dipersulit dengan urusan perizinan, maka para pedagang online justru masih dilenakan dengan aturan pajak dan perizinan yang belum jelas dan tegas ditegakkan oleh pemerintah.
