Layanan Penerbangan Haji Banyak Masalah, Kemenag Sebut Manajemen Garuda Gagal

Juru Bicara Kemenag Anna Hasbie [dok. Humas Kementerian Agama]
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) mencatat masih terjadi sejumlah persoalan penerbangan Garuda Indonesia pada fase pemberangkatan jemaah haji ke Madinah. Meski teguran tertulis sudah dilayangkan pada 16 Mei 2024 lalu, Kemenag merasa belum ada perbaikan layanan secara signifikan.

img_title Kecelakaan Pesawat di Peru, 13 Orang Tewas

Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie menegaskan, Kemenag menilai manajemen Garuda Indonesia gagal dalam memberikan layanan terbaik kepada jemaah fase pemberangkatan, yang sudah berlangsung sejak 12 Mei 2024.

"Kami mencatat banyak persoalan yang terjadi dalam sepekan terakhir penerbangan jemaah haji Indonesia. Kami melihat performa Garuda Indonesia tahun ini sangat buruk. Kami sudah sampaikan teguran tertulis, tapi belum ada perbaikan signifikan," kata Anna dalam keterangannya, Rabu, 22 Mei 2024.

img_title Detik-detik Power Bank WN China Terbakar di Pesawat, Batik Air Ungkap Penyebabnya

"Kami melihat manajemen garuda gagal dalam memberikan layanan terbaik untuk jamaah haji," ujarnya.

Pesawat Garuda Indonesia Terbakar di Udara saat angkut jemaah haji asal Sulsel. (Tangkapan Layar/istimewa)

Photo :
  • VoxPop.co.id/Supriadi Maud (Sulawesi Selatan)
img_title Powerbank Milik WN China Terbakar, Penumpang Pesawat Batik Air Makassar-Jakarta Panik

Anna menjelaskan, Kementerian Agama mencatat ada sejumlah persoalan pada penerbangan jemaah haji Indonesia, yang sudah berlangsung sejak 12 Mei 2024. Pertama yakni soal kerusakan mesin pesawat, yang terjadi di Embarkasi Makassar.

Dimana, sayap kanan pesawat Garuda Indonesia mengeluarkan api pada saat take off penerbangan jemaah kelompok terbang (kloter) lima Embarkasi Makassar UPG-05). "Kondisi ini berdampak domino pada keterlambatan sejumlah penerbangan setelahnya," kata Anna.

Kedua yakni soal keterlambatan penerbangan. Ontime performance (OTP) Garuda Indonesia dinilai juga sangat buruk, di mana prosentase keterlambatan keberangkatan pesawat Garuda Indonesia sangat tinggi yakni mencapai 47,5 persen.

“Dari 80 penerbangan, 38 di antaranya mengalami keterlambatan. Bahkan ada keterlambatan sampai 3 jam 50 menit. Kalau ditotal, keterlambatan itu mencapai 32 jam 24 menit. Ini tentu sangat disayangkan," ujarnya.

Pesawat Garuda Indonesia di Bengkel GMF AeroAsia.

Photo :
  • VoxPop/Dusep Malik

Ketiga yakni pecah kloter. Dia menyebut perencanaan Garuda Indonesia juga meleset. Dimana, pecah kloter yang awalnya diperkirakan hanya akan terjadi satu kali, ternyata terjadi beberapa kali. "Salah satunya pecah kloter dialami UPG-06 karena Garuda tidak bisa menggantikan pesawat yang mesinnya rusak dengan jenis pesawat yang sama," kata Anna. 

Kemenag mencatat, sampai hari ini sudah ada empat penerbangan yang pecah kloter. Dimana, satu kloter jemaah tidak bisa diterbangkan secara bersama-sama. "Potensi ini masih bisa bertambah jika tidak dimitigasi dengan baik karena masa penerbangan jemaah ke Tanah Suci masih akan berlangsung hingga 10 Juni mendatang," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut