Gen Z Merasa Gelisah? Ini Dia Penyebab Doom Spending dan Cara Mengatasinya!

doom spending
Sumber :
  • pixabay/Foto-Rabe

VoxPop – Generasi Z semakin sering mengalami tekanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi. Salah satu cara yang mereka pilih untuk mengatasi stres adalah dengan melakukan doom spending, yaitu perilaku belanja impulsif yang tidak terkendali.

img_title Bea Cukai Dinilai Sebagai Penjaga Perbatasan Ekonomi Indonesia

Fenomena ini semakin marak dengan hadirnya metode pembayaran seperti Buy Now, Pay Later (BNPL) yang memudahkan mereka untuk belanja tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Apa Itu Doom Spending?

img_title Kepada Prabowo, Anindya Bakrie Tegaskan Kesiapan Dunia Usaha Bantu Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Doom spending adalah kebiasaan membelanjakan uang untuk kesenangan jangka pendek sebagai respons terhadap kecemasan tentang masa depan keuangan. Doom spending dipicu oleh faktor eksternal seperti ketidakstabilan ekonomi global. Gen Z tumbuh di tengah resesi global dan pandemi, memicu pesimisme terkait kemampuan mencapai tujuan finansial tradisional, seperti membeli rumah. 

Peran Buy Now, Pay Later (BNPL) dalam Doom Spending

img_title Kadin Se Indonesia Dipanggil Prabowo, Anindya Ungkap Diskusi soal Genjot Ekonomi Daerah

BNPL memainkan peran besar dalam fenomena doom spending karena memungkinkan pembelian barang secara impulsif tanpa membayar di muka. Menurut Money US News, BNPL memudahkan individu untuk berbelanja barang-barang mewah yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Hal ini menambah beban utang dan memperburuk kondisi keuangan.

Mengapa Generasi Z Rentan Terhadap Doom Spending?

Generasi Z terjebak dalam pola pikir "YOLO" (You Only Live Once) dan "FOMO" (Fear of Missing Out), membuat mereka merasa perlu membelanjakan uang untuk barang atau pengalaman demi mengikuti tren. Hal ini diperburuk oleh meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi yang membuat mereka merasa pesimis tentang masa depan.

Dampak dari Doom Spending

Doom spending tidak hanya menguras tabungan, tetapi juga meningkatkan utang pribadi. Sky News melaporkan bahwa banyak anak muda mengalami masalah keuangan akibat perilaku ini, dan jika tidak dikendalikan, mereka berisiko terjebak dalam siklus utang.

Cara Mengatasi Doom Spending

Untuk mengatasi doom spending, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Buat Anggaran

Menggunakan aturan 50/30/20, yang mengalokasikan 50% dari pendapatan untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan, adalah salah satu cara untuk menyeimbangkan keuangan kita.

  1. Edukasi Keuangan

Menurut Money US News, meningkatkan literasi keuangan membantu orang muda memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta mengelola uang dengan lebih bijak. Berikut referensi laman instagram Mr victor seorang Financial planner tentang edukasi keuangan, yang menekankan Semua Dimulai dari Pikiran, Bukan Harta. 

  1. Kurangi Pengaruh Media Sosial

Hindari tekanan dari media sosial yang sering mendorong perilaku belanja impulsif. Fokuslah pada tujuan finansial jangka panjang seperti menabung dan berinvestasi.

Doom spending adalah fenomena yang semakin marak di kalangan Generasi Z, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Meskipun belanja impulsif dapat memberikan kepuasan jangka pendek, penting bagi anak muda untuk memahami dampaknya terhadap kondisi finansial jangka panjang dan mengembangkan kebiasaan pengelolaan uang yang lebih sehat.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Rupiah Menguat ke Rp 18.008, Pasar Cermati Indikator Ekonomi dari Inflasi hingga Neraca Dagang

Hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.008 per dolar AS. Posisi itu menguat 14 poin atau 0,08 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.022 per dolar AS

img_title
VoxPop.co.id
3 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut