Rupiah Menguat ke Rp 18.008, Pasar Cermati Indikator Ekonomi dari Inflasi hingga Neraca Dagang

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Sumber :
  • Pixabay/IqbalStock

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

img_title IHSG Dibuka Menghijau Siap Uji Resistance, Wall Street dan Bursa Asia Kompak Menguat

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.058 pada Jumat, 31 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 20 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 18.078 pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 3 Agustus 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.008 per dolar AS. Posisi itu menguat 14 poin atau 0,08 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.022 per dolar AS.

img_title Inflasi Tahunan Juli 2026 Diperkirakan Melandai ke 3,08 Persen, Simak Indikatornya

Mata uang Rupiah.

Photo :
  • istockphoto.com

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

img_title Ekonom Perkirakan Inflasi Bulanan Juli 2026 Melambat ke 0,03 Persen, Cek Analisanya

"Pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, dan di Indonesia terutama soal neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 3 Agustus 2026.

Selain neraca perdagangan, Ibrahim memperkirakan bahwa inflasi domestik akan melandai karena dampak intervensi pasar terhadap harga pangan.

Sementara untuk Inflasi, kemungkinan besar juga akan melandai karena harga-harga relatif lebih turun akibat adanya intervensi pasar yang bisa saja berada di bawah 3,34 persen.

Di sektor industri, Ibrahim memperkirakan aktivitas manufaktur Indonesia masih belum mampu keluar dari zona kontraksi. Data PMI Manufaktur Indonesia kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50, walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 meskipun masih terkontraksi. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja menurun drastis karena PHK di mana-mana.

Ibrahim juga memproyeksikan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan bulan Juni sebelumnya. Menurutnya, tingkat cadangan devisa tersebut belum memenuhi standar, yang umumnya menjadi acuan bagi negara dengan peringkat utang kategori investment grade.

Kemudian daya beli masyarakat juga dinilai masih menghadapi tekanan, yang tercermin dari tren penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Kombinasi berbagai data tersebut diperkirakan akan menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut