Kasus eFishery Jadi Pelajaran Penting bagi Startup Sektor Agritech

Budidaya Ikan dan Udang dengan teknologi eFishery.
Sumber :
  • istimewa

Jakarta, VoxPop – Kasus dugaan fraud yang menimpa eFishery telah membawa dampak luas. Terutama bagi para karyawan, petani budidaya ikan, dan pelajaran mendalam dalam dunia akademik. 

img_title Dua Segmen Bisnis Ini Jaga Kinerja Astra di Semester I-2026

Pakar Perikanan dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Yudi Nurul Ihsan, menyebut eFishery sebagai pelopor dalam digitalisasi perikanan. 

“Keberadaan eFishery membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani. Namun, tantangan dalam manajemen keuangan menjadi pelajaran penting bagi startup di sektor agritech,” katanya dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat, 28 Februari 2025.

img_title Opsi Pembiayaan Geser ke Platform Digital, OJK: Utang Pinjol Masyarakat Capai Rp 105 Triliun Per Juni 2026

Menurutnya, eFishery memiliki peluang untuk kembali dengan model bisnis yang lebih transparan dan akuntabel. 

“Jika evaluasi menyeluruh dilakukan dan kepercayaan petani serta investor dapat dipulihkan, eFishery masih bisa menjadi pemain utama di industri akuakultur,” tambahnya.

img_title Gandeng IPB, Mandiri Taspen Perluas Literasi Keuangan hingga Pengembangan Ekosistem SDM

Teknologi eFishery pada pembudidaya ikan di Indonesia.

Photo :
  • istimewa

eFishery juga dipandang sebagai inovasi yang merevolusi industri akuakultur di Indonesia. Teknologi pakan otomatis dan akses pembiayaan yang ditawarkan menjadi solusi atas permasalahan klasik di sektor ini.

Meski dihantam skandal yang menyebabkan penghentian operasional sejak Desember 2024, banyak pihak yang tetap melihat eFishery sebagai inovasi penting dalam transformasi industri akuakultur di Indonesia.

Terlepas dari laporan keuangan eksternal, jika ditelisik lebih dalam dari laporan FTI yg beredar, pencapaian bisnis eFishery sebenarnya bisa dikatakan cukup impresif. Per tahun, eFishery sempat mendapatkan tambahan revenue Rp2 triliun (50% growth) di 2023, skala ini salah satu yang terbesar dalam dunia perikanan. 

Profitability-nya pun, meskipun mencatat net loss, tapi jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan teknologi lain yang pada saat IPO masih mencatatkan kerugian lebih dari Rp 1 triliun, bahkan ada yang hingga Rp 3 triliun per tahun. 

Sedangkan eFishery di tahun terakhirnya bisa menumbuhkan profitabilitas hingga 42 persen. Secara bisnis, harusnya sangat bisa dilanjutkan.

Para petani ikan yang menjadi mitra eFishery turut merasakan dampak kasus ini. Mario, petani ikan di Ciseeng, Bogor, mengapresiasi peran eFishery.

“Fasilitas kredit seperti KABAYAN (Kasih Bayar Nanti) sangat membantu kami dalam membeli pakan. Kredit ini memberikan kelonggaran dalam pembayaran, sehingga kami bisa fokus pada budidaya,” jelasnya.

Selain aspek pemberian pakan, bagi Mario eFishery juga sempat meluncurkan program pemasaran sejak tahun 2023.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut